Logo Bloomberg Technoz

Sisanya, CITA menjual bauksit ke pelanggan baru seperti PT Borneo Alumindo Prima dan PT Arta Kusuma Lestari.

Pertumbuhan dari lini bisnis inti bauksit yang relatif moderat itu belakangan ditekan investasi pada portofolio alumina lewat  PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHWAR).

Alasannya, laba bersih dari WHWAR yang menjadi bagian dari CITA anjlok sepanjang paruh pertama 2026. WHWAR hanya menyetor Rp275,54 miliar ke CITA, anjlok 79,44% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sekitar Rp1,33 triliun.

Anjloknya setoran dari WHWAR itu sejalan dengan normalisasi harga alumina sepanjang tahun ini. Awal 2025, harga alumina sempat menyentuh rata-rata sekitar US$500 juta -US$550 juta per ton akibat krisis pasokan dari China, Guinea dan Australia.

Mengutip Fastmarkets, harga alumina perlahan turun ke level US$300 per ton sepanjang paruh pertama tahun ini. Alasannya, pasokan alumina di pasar global mulai berlebih dari beberapa pabrik di Indonesia.

Belakangan, CITA menambah portofolio hilirisasi bauksitnya lewat penyertaan saham ke PT Kalimantan Aluminium Industry dan PT Kaltara Power Indonesia.

CITA menghimpit 12,5% saham PT Kalimantan Aluminium Industry yang menggarap smelter aluminium. Sekitar 65% saham dipegang PT Adaro Mineral Tbk (ADMR), sisanya dihimpit Aumay Mining Pte. Ltd.

Sementara itu, CITA mengambil bagian 16% saham PT Kaltara Power Indonesia yang memasok listrik untuk smelter aluminium tersebut. PT Adaro Indonesia memegang mayoritas saham pembangkit setrum tersebut.

Dari lantai bursa, saham CITA bergerak datar selepas laporan kinerja semester I-2026 tersebut. Saham CITA diperdagangkan di level Rp3.270 per saham sampai penutupan perdagangan sesi I, Kamis (6/8/2026).

Mayoritas saham CITA dikuasai oleh PT Harita Jaya mencapai 60,45% dan Glencore International Investments Ltd sebesar 31,61%. Adapun, Alamtri Indo Aluminium dan Uob Kay Hian masing-masing menguasai 3,6% dan 2,93% saham.

Adapun, pemilik manfaat akhir dari CITA adalah Lim Hariyanto Wijaya Sarwono dan Lim Gunardi Hariyanto. Taipan di balik konglomerasi bisnis Grup Harita.

(naw)

No more pages