Logo Bloomberg Technoz

Pasar diesel global sempat mengalami kekacauan pada awal konflik AS-Iran, di mana pengiriman minyak mentah dan produk olahan minyak—seperti bahan bakar jet atau avtur dan diesel—terhambat melintasi Selat Hormuz.

Tekanan pasokan makin meningkat setelah serangan Ukraina selama berbulan-bulan terhadap kilang-kilang minyak Rusia. Serangan ini membatasi kapasitas produksi bahan bakar dan pada akhirnya mendorong Moskwa untuk memberlakukan larangan ekspor terhadap sebagian besar diesel.

Kondisi tersebut menjadikan AS sebagai salah satu dari sedikit produsen diesel di dunia yang memiliki kapasitas memadai untuk memproduksi bahan bakar sekaligus mengirimkannya ke luar negeri.

Berdasarkan data dari perusahaan analitik energi Vortexa Ltd., tujuan ekspor terbanyak dalam dua pekan terakhir adalah Eropa barat laut.

Eropa merupakan "pusat" dari krisis pasokan diesel global akibat dampaknya terhadap gangguan operasional kilang di Timur Tengah dan Rusia.

Sebelumnya pada Juli, ekspor bahan bakar distilat AS lebih sering ditujukan ke wilayah Karibia dan Amerika Selatan, seiring dengan langkah importir untuk menambah stok menjelang musim tanam September.

Rekor baru ini menandai lima minggu berturut-turut di mana volume ekspor melampaui 1,5 juta barel per hari, sehingga menguras cadangan bahan bakar dalam negeri AS meskipun pihak kilang telah berupaya maksimal memproduksi diesel.

Secara musiman, tingkat cadangan bahan bakar distilat AS pada pekan lalu tercatat sebagai yang terendah sejak 1996.

Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis pasokan pasar menjelang musim gugur, saat rumah-rumah di wilayah Timur Laut AS dan berbagai belahan dunia mulai menggunakan minyak pemanas ruangan.

(bbn)

No more pages