Harga minyak bergerak stabil pada Rabu di tengah semakin banyaknya tanda bahwa Selat Hormuz mungkin dibuka kembali. Hal itu berpotensi memulihkan produksi jutaan barel minyak per hari yang terganggu akibat konflik selama lima bulan. Minyak mentah Brent diperdagangkan di sekitar US$79 per barel.
Pengumuman terbaru Iran mengenai Hormuz muncul setelah kebuntuan selama berbulan-bulan antara AS dan Teheran terkait cara mengakhiri perang. Pengaturan pelayaran melalui jalur perairan tersebut menjadi salah satu persoalan utama. Teheran menuntut kapal-kapal memperoleh izin untuk melintas dan membayar biaya transit, serta telah menyerang kapal yang dinilai melanggar ketentuan tersebut.
AS, sebagai gantinya, telah memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Persoalan itu menyebabkan gencatan senjata dan kesepakatan perdamaian sementara runtuh bulan lalu.
Meski pertempuran antara kedua pihak untuk sementara terhenti, sejumlah persoalan lain masih belum terselesaikan—terutama program nuklir Iran—dan belum ada kesepakatan untuk memulai perundingan formal.
Televisi pemerintah Iran sebelumnya mengecilkan hasil pembicaraan Iran-Oman dengan mengutip seseorang yang mengetahui masalah tersebut. Menurut sumber itu, kesepakatan antara Teheran dan Muscat tidak serta-merta berarti Selat Hormuz akan langsung dibuka. Hal itu bergantung “pada perubahan perilaku AS”.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan kepada kantor berita pemerintah IRNA bahwa Iran dan Oman sedang merundingkan “rute sementara” yang akan beroperasi selama dua hingga empat bulan, dengan sebagian besar lalu lintas melewati perairan teritorial Republik Islam. “Pemahaman ini tidak berarti pembukaan penuh Selat Hormuz,” katanya.
Dalam wawancara dengan Fox News yang direkam pada Selasa, Trump kembali mengancam bahwa jika Iran tidak “membuat kesepakatan, akibatnya akan sangat buruk”. Pada akhir pekan, Trump menunda serangan yang disebutnya akan menjadi serangan terbesar sejak Perang Dunia II.
Trump mengatakan kepada wartawan di Los Angeles pada Selasa malam bahwa pembicaraan dengan Iran “berjalan sangat baik”, seraya menambahkan, “Kita akan tahu dalam 48 jam.”
Sikap Iran terkait Hormuz memperumit upaya Trump untuk mengakhiri perang—yang kini memasuki bulan keenam—yang sebelumnya diklaimnya hanya akan berlangsung beberapa pekan. Gangguan pelayaran di Hormuz telah mendorong harga energi global dan menjadi ancaman khusus bagi Trump dan Partai Republik di dalam negeri. Para pemilih AS sudah menghadapi tekanan akibat tingginya biaya hidup menjelang pemilihan paruh waktu pada November.
Meski lalu lintas yang terlihat melalui selat tersebut terbatas, jutaan barel minyak per hari tetap melintasi jalur perairan itu bahkan ketika ketegangan meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Produsen minyak Timur Tengah mengangkut kargo keluar dari kawasan Teluk sebagai bagian dari program pengiriman bolak-balik yang diterapkan sejumlah negara di kawasan tersebut. Bahkan jika tercapai kesepakatan untuk membuka kembali Hormuz, kemungkinan sebagian dari skema pengiriman bolak-balik itu akan tetap berlangsung karena pemilik kapal mempertimbangkan risiko untuk kembali berlayar ke Teluk Persia.
(bbn)





























