Sebelumnya, BPJS Kesehatan sudah buka suara terkait persoalan tersebut.
Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya peserta JKN tersebut.
Ia menegaskan BPJS Kesehatan berkepentingan untuk memastikan setiap peserta yang status kepesertaannya aktif memperoleh pelayanan kesehatan sesuai haknya.
"Hal yang perlu kami tegaskan, sepanjang peserta terdaftar aktif dalam Program JKN dan memenuhi indikasi medis, pelayanan kesehatannya dijamin oleh BPJS Kesehatan dan fasilitas kesehatan yang bekerja sama wajib memberikan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan," kata Rizzky dalam keterangan tertulis, Rabu (5/8).
Salah satu komentar yang menjadi sorotan berasal dari dokter Beni Christian Sihombing melalui akun Threads @bennychrstn. Dokter yang bertugas di RSUD Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu menuai kritik dari warganet karena komentarnya terhadap unggahan pasien dinilai tidak menunjukkan empati. Setelah kabar meninggalnya Yurizal beredar, tangkapan layar komentar tersebut kembali ramai dibagikan di media sosial dan memicu perdebatan mengenai etika tenaga kesehatan dalam menggunakan media sosial.
"Kalo full, mau dipindahkan kemana? mau di lantai? Gk ada hubungannya sama BPJS atau nggak. BPJS yg make banyak, otomatis yg dirawat juga banyak, ga cuma u sendiri. Kalo mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong. Ngeselin dah, nakes/RS bahkan pemerintah melalui BPJS berusaha bantuin, masyarakatnya malah gini," komentar dokter Beni.
(spt)






























