Qatar dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Selasa (4/8) mengatakan bahwa sebuah kesepakatan, yang kemungkinan berkaitan dengan Selat Hormuz, akan segera tercapai. Jalur perairan tersebut kini menjadi titik awal bagi setiap upaya perundingan lanjutan, setelah perselisihan mengenai pengelolaannya menemui jalan buntu selama berbulan-bulan.
Operasi pembersihan ranjau oleh negara-negara Eropa akan bergantung pada jaminan keamanan yang diberikan Iran bagi kapal-kapal angkatan laut yang terlibat serta keberlanjutan gencatan senjata, menurut sumber-sumber tersebut. Mereka menambahkan bahwa belum ada jaminan rencana itu akan terlaksana. Langkah tersebut juga membutuhkan persetujuan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran yang berpengaruh, cabang militer yang memimpin serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi jalur tersebut.
Salah satu sumber mengatakan masih terdapat perbedaan pendapat di antara para pemimpin Iran. Sejumlah anggota IRGC bersikeras bahwa Republik Islam, bukan negara lain, yang harus bertanggung jawab untuk menjinakkan ranjau laut, kata sumber tersebut.
Persoalan tata kelola Selat Hormuz setelah perang juga masih menjadi titik perbedaan. Iran menuntut kendali atas jalur perairan tersebut serta hak untuk memungut biaya atas penggunaannya—sesuatu yang ditentang keras oleh AS.
Donald Trump pada Senin mengatakan Iran memiliki “kesempatan terakhir” untuk mencapai kesepakatan, seraya mengancam akan melanjutkan serangan udara jika tidak tercapai kesepakatan. Kesepakatan tersebut kemungkinan bergantung pada hasil pembicaraan antara Iran dan Oman, yang menguasai garis pantai selatan Selat Hormuz.
Qatar, yang menjadi mediator, pada Selasa mengumumkan bahwa rancangan kesepakatan untuk menghidupkan kembali perundingan antara Washington dan Teheran telah disusun dan diedarkan kepada para pihak. Kesepakatan tersebut dapat menjadi solusi jangka pendek untuk meredakan ketegangan. Bessent mengatakan kesepakatan terkait Hormuz dapat tercapai paling cepat pada Selasa.
Pembicaraan Iran-Oman berfokus pada pembukaan jalur tengah baru di Selat Hormuz. Namun, jalur tersebut diyakini telah dipasangi ranjau, menurut sejumlah sumber. Artinya, keberhasilan kesepakatan akan bergantung pada upaya lanjutan untuk membersihkan area tersebut.
AS juga mendesak sekutunya memastikan Selat Hormuz aman untuk dilalui guna menghidupkan kembali arus pasokan energi, kata salah satu sumber.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mendorong Inggris dan Prancis menjadi tuan rumah konferensi internasional mengenai pelayaran di Selat Hormuz. Namun, konferensi tersebut kini diperkirakan baru akan digelar setelah gencatan senjata kembali diberlakukan dan terbukti dapat bertahan, kata seorang pejabat senior. Negara-negara Eropa menolak permintaan tersebut karena khawatir langkah itu dapat dianggap sebagai dukungan terhadap aksi ofensif AS, ujar pejabat tersebut. Dukungan AS terhadap misi pembersihan ranjau juga menandai perubahan sikap, mengingat Trump sebelumnya meremehkan dukungan Eropa.
Teheran sebelumnya menolak inisiatif pembersihan ranjau yang dipimpin Eropa.
“Pembersihan ranjau dilakukan semata-mata oleh Iran dan tidak ada negara lain,” tulis Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi di X pada Juni, sebagai tanggapan atas pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang mengatakan akan berupaya melakukan pembersihan ranjau di Selat Hormuz.
(bbn)

































