Logo Bloomberg Technoz

Dia memandang defisit perdagangan dari impor migas bakal menekan nilai tukar rupiah, menguras devisa negara, hingga meningkatkan risiko membengkaknya subsidi energi jika harga kembali melonjak.

“Merespons ini pemerintah tidak cukup hanya mengamankan pasokan energi, juga harus mempercepat peningkatan produksi migas domestik. Ukuran keberhasilannya adalah berkurangnya ketergantungan impor, bukan sekedar tersedianya stok energi,” ucap Badiul.

Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Mohammad Faisal justru memandang lonjakan impor tersebut hanya dipengaruhi meningkatnya harga minyak mentah dunia dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Faisal menyatakan harga minyak mentah dunia sempat melonjak ke level US$100/barel, dari sebelumnya di sekitar US$70/barel.

Nah, dengan peningkatan harga tentu saja mendorong kenaikan dari sisi value impor kita. Terus satu hal lagi yang berkaitan dengan itu juga adalah jangan lupa kurs, kurs kita melemah,” kata Faisal ketika dihubungi, Rabu (5/8/2026).

“Namun, saya tidak melihat peningkatan volume sebagai faktor utama ya karena kita tahu ini juga banyak dipengaruhi oleh sejauh mana sebetulnya perbaikan peningkatan aktivitas ekonomi ya,” terangnya.

Sekadar catatan, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai impor minyak mentah Indonesia pada Juni 2026 mencapai US$1,72 miliar, naik 194,56% dibandingkan dengan Juni 2025 atau secara year on year (yoy) yang senilai US$582,6 juta.

Impor hasil minyak pada Juni 2026 tercatat US$2,84 miliar, naik 73,37% dari Juni 2025 senilai US$1,64 miliar.

Secara kumulatif, nilai impor migas Indonesia pada Juni 2026 mencapai US$4,56 miliar, meningkat 105,15% secara tahunan dibandingkan dengan Juni 2025 di level US$2,22 miliar. 

Secara bulanan atau month to month (mtm), nilai impor migas pada Juni 2026 naik tipis 0,96%  menjadi US$4,56 miliar dari US$4,51 miliar pada Mei 2026.

Sepanjang tahun berjalan atau year to date (ytd), dari Januari hingga Juni 2026, total nilai impor migas Indonesia tercatat US$22 miliar atau meningkat 38,71% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya senilai US$15,86 miliar.

Berdasarkan data impor minyak mentah BPS yang masuk ke kode HS 27090010 (crude petroleum), Indonesia tercatat mengimpor sekitar 8,55 juta ton minyak mentah sepanjang Januari—Juni 2026. 

Nigeria tercatat menjadi tenaga pemasok minyak mentah terbesar ke Indonesia pada periode tersebut, mencapai 2,2 juta ton.

Kemudian, Angola menjadi negara kedua pemasok minyak mentah ke Indonesia dengan volume mencapai 1,56 juta ton.

Posisi ketiga terbesar ditempati oleh Arab Saudi, yang telah memasok sekitar 1,26 juta ton minyak mentah sepanjang Januari—Juni 2026 ke Indonesia.

Berdasarkan data BPS, berikut daftar negara pemasok minyak mentah ke Indonesia sepanjang Januari—Juni 2026:

  • Nigeria : 2.222.019 ton
  • Angola: 1.561.520 ton
  • Arab Saudi: 1.266.725 ton
  • Brasil: 923.360 ton
  • Gabon: 695.154 ton
  • Malaysia: 356.734 ton
  • Uni Emirat Arab: 284.154 ton
  • Cote D'Ivoire: 240.265 ton
  • Algeria: 190.588 ton
  • Guyana: 139.371 ton
  • Kamerun: 135.489 ton
  • Libya: 132.705 ton
  • Rusia: 103.669 ton
  • Equatorial Guinea: 90.988 ton
  • Papua Nugini: 81.888 ton
  • Kazakhstan: 81.649 ton
  • Brunei: 43.461 ton

(azr/wdh)

No more pages