Logo Bloomberg Technoz

Impor Migas Naik 105%, Efek Harga atau RI Jorjoran Beli Minyak?

Azura Yumna Ramadani Purnama
05 August 2026 14:50

Tangki penyimpanan bahan bakar di fasilitas PT Pertamina di Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta./Bloomberg-Dimas Ardian
Tangki penyimpanan bahan bakar di fasilitas PT Pertamina di Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta – Sejumlah ekonom meyakini lonjakan impor minyak mentah (crude) menyulut kenaikan nilai impor minyak dan gas (migas) Indonesia pada Juni 2026 menjadi US$4,56 miliar atau meroket 105,15% secara tahunan dari level US$2,22 miliar. 

Ekonom Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Badiul Hadi menilai lonjakan impor tersebut tidak hanya dipengaruhi harga minyak dunia yang tinggi, tetapi volume pembelian yang turut meningkat.

Dia menilai hal tersebut menunjukkan kebutuhan migas domestik memang makin besar, tetapi produksi nasional belum mampu memenuhinya. Dengan begitu, Indonesia sangat bergantung terhadap impor migas.


“Kebijakan pemerintah menambah impor untuk menjaga stok dan membangun cadangan energi merupakan langkah antisipatif di tengah ketidakpastian geopolitik, tetapi tidak boleh berubah menjadi ketergantungan permanen terhadap impor karena memperlemah ketahanan energi,” kata Badiul ketika dihubungi, Rabu (5/8/2026).

Tangki penyimpanan bahan bakar di fasilitas PT Pertamina di Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, Indonesia./Bloomberg-Dimas Ardian

Untuk itu, Badiul menilai pemerintah perlu mewaspadai dampak lonjakan impor migas terhadap perekonomian domestik.