Meutya mengatakan pemerintah juga telah mengetahui laporan kasus tersebut kepada kepolisian. Penegakan hukum menjadi kewenangan aparat, sementara Komdigi mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap UU PDP dan etika penggunaan teknologi.
"Di situ ada pelanggaran terhadap PDP, di situ ada juga pelanggaran terhadap etika, dan tentu dalam kerangka menjaga tidak hanya perempuan, tapi khususnya perempuan dan anak-anak dari kegiatan-kegiatan perekaman tanpa izin."
Di belahan dunia lain, kasus dugaan pelanggaran privasi bahkan sudah mendorong aparat kepolisian melakukan penyelidikan atas tindakan seorang kreator konten TikTok Scott Margerison.
Kepolisian Skotlandia mengkonfirmasi tengah meninjau sejumlah video yang Scott, pemilik nama akun E Dobbin, untuk menentukan apakah terdapat unsur tindak pidana.
Rekaman yang diunggah memperlihatkan interaksinya dengan sejumlah orang di ruang publik, termasuk perempuan muda yang diduga direkam tanpa mengetahui keberadaan kamera pada kacamata tersebut.
Kasus itu juga berdampak pada operator feri CalMac yang menghentikan sementara tur ke ruang kemudi kapal setelah salah satu videonya memperlihatkan area terbatas yang direkam menggunakan Meta Smart Glasses. Sementara itu, Meta disebut telah menindak sejumlah akun milik kreator tersebut karena dinilai melanggar kebijakan platform, seperti dilansir dari Independent UK.
Di tengah sorotan yang muncul, produsen smart glasses mulai menambah lapisan perlindungan privasi pada perangkat mereka. Meta, misalnya, baru-baru ini merilis pembaruan perangkat untuk Ray-Ban Meta Smart Glasses.
Melalui pembaruan itu, kamera akan otomatis dinonaktifkan jika sistem mendeteksi lampu indikator LED perekaman ditutup, dilepas, atau dimodifikasi. Langkah tersebut diambil untuk mencegah penyalahgunaan kamera sehingga orang lain tetap mengetahui ketika perangkat sedang merekam.
Samsung Electronics Co. juga mengakui isu privasi menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan kacamata pintar.
Perusahaan menyatakan perangkat smart glasses yang dikembangkan bersama Google dibekali mekanisme agar kamera tidak dapat digunakan ketika lampu indikator perekaman tertutup. Samsung juga memastikan data audio maupun video pengguna tidak digunakan untuk melatih model kecerdasan buatan (AI).
Pengembangan fitur-fitur tersebut mengeklaim bahwa perlindungan privasi menjadi salah satu fokus utama di tengah semakin maraknya pengembangan smart glasses.
Selain Meta dan Samsung, sejumlah perusahaan teknologi lain juga tengah mengembangkan perangkat serupa yang memadukan kamera, mikrofon, dan AI untuk berbagai kebutuhan pengguna.
Meta Minta Pengguna Hormati Privasi Orang Lain
Di laman resmi panduan privasi AI Glasses, Meta menegaskan bahwa perlindungan privasi menjadi bagian dari desain perangkat sejak tahap pengembangan. Perusahaan meminta pengguna memahami aturan dan hukum yang berlaku di wilayah masing-masing sebelum menggunakan fitur kamera maupun kecerdasan buatan pada kacamata pintar.
Meta juga mengingatkan pengguna untuk selalu menghormati privasi orang lain. Pengguna disarankan memberi tahu seseorang ketika akan mengambil foto atau merekam video, terutama dalam situasi yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan atau ketika orang tersebut tidak menyadari sedang direkam.
Perusahaan turut mengimbau agar AI Glasses tidak digunakan di lokasi yang melarang pengambilan gambar atau perekaman, serta meminta pengguna menghormati permintaan seseorang yang tidak ingin direkam atau difoto. Meta menegaskan pengguna bertanggung jawab mematuhi peraturan yang berlaku saat menggunakan perangkat tersebut.
Sebagai lapisan perlindungan tambahan, setiap AI Glasses dilengkapi lampu indikator putih (capture LED) yang berkedip ketika kamera mengambil foto atau merekam video. Meta menyatakan kamera akan otomatis dinonaktifkan apabila sistem mendeteksi lampu indikator tersebut dirusak atau dimodifikasi. Menurut perusahaan, mekanisme ini merupakan salah satu cara untuk menjaga transparansi penggunaan kamera di ruang publik.
Meski demikian, meningkatnya jumlah kasus perekaman tanpa persetujuan menunjukkan bahwa perlindungan privasi tidak hanya bergantung pada fitur keamanan yang disematkan produsen. Penggunaan perangkat wearable berkamera secara bertanggung jawab serta kepatuhan terhadap aturan yang berlaku tetap menjadi faktor utama untuk mencegah penyalahgunaan teknologi tersebut.
*) Artikel ini mendapat pembaruan informasi perkembangan kasus dugaan pelanggaran yang sama seperti dilakukan TikToker Scott Margerison atau E Dobbin.
-Dengan asistensi Whery Enggo Prayogi.
(red)





























