Sebagai contoh, menurutnnya standar pemeriksaan di pelabuhan saat ini dinilai belum seketat di bandar udara yang telah dilengkapi fasilitas x-ray untuk mendeteksi barang-barang berbahaya. Terlebih juga masih terdapat kendaraan yang masuk ke kapal penyeberangan belum seluruhnya melalui pemeriksaan memadai untuk mengetahui muatan yang dibawa.
"Di pelabuhan laut tidak ada namanya x-ray yang mengecek secara cermat seperti yang ada di udara. Misalnya penumpang membawa korek api, misalnya penumpang membawa yang membahayakan terhadap keselamatan daripada transportasi ini tidak terdeteksi dengan baik," tegasnya.
Di sisi lain, selain pengetatan pengawasan, Bambang menilai diperlukan pula peningkatan kualitas sumber daya manusia atau SDM transportasi juga harus menjadi perhatian pemerintah. Menurutnya, lembaga pendidikan di bawah Kementerian Perhubungan maupun Kepolisian memiliki peran penting dalam mencetak operator transportasi yang kompeten.
Tak hanya itu, ia juga meminta pemerintah memperketat pengawasan terhadap fasilitas perawatan (maintenance facility) seluruh moda transportasi, mulai dari galangan kapal, fasilitas maintenance, repair and overhaul (MRO) pesawat, hingga bengkel perawatan angkutan darat.
"Jadi ini peran-peran daripada untuk maintenance ini betul-betul harus diperhatikan oleh pemerintah dan harus ada kebersamaan dengan si operator itu sendiri. Sehingga maintenance facility daripada transportasi ini akan menjadi lebih baik di dalam menjamin alat-alat transportasi ini [agar] bisa dijalankan dengan secara [baik] apalagi maksimal untuk keselamatan, kenyamanan, dan keamanan daripada transportasi itu sendiri," pungkasnya.
KM Mutiara Sentosa II terbakar di Perairan Utara Sumenep, Jawa Timur, Minggu (2/8/2026) pagi, saat berlayar dari Surabaya menuju Makassar.
Hingga Senin (3/8/2026), operasi SAR masih berlangsung. Berdasarkan data Basarnas, kapal mengangkut 271 orang yang terdiri atas 232 penumpang dan 39 awak kapal. Sedikitnya lima orang dilaporkan meninggal dunia, 225 orang berhasil dievakuasi, sementara puluhan lainnya masih dalam pencarian. Namun, penyebab kebakaran masih dalam proses investigasi.
Insiden KM Mutiara Sentosa II tentunya kian menambah daftar kecelakaan kapal yang terjadi sepanjang 2026.
Operasi penyelamatan KM Mutiara Sentosa II ini pun melibatkan Basarnas, Kementerian Perhubungan, TNI AL, Polairud, serta sejumlah kapal niaga yang berada di sekitar lokasi, seperti TB Hasnur 26, KM Prakarsa Mas, KM Meratus Pematang Siantar, dan KM Transco Arafura.
Kementerian Perhubungan juga mengerahkan kapal patroli KPLP KN Grantin P.211 dan menyiapkan KN Masalembo untuk memperkuat proses evakuasi.
(ain)































