Akan tetapi, menurut dia, belanja pemerintah tetap menjadi salah satu faktor yang menopang aktivitas ekonomi selama periode tersebut. Dukungan fiskal tercermin dari penyaluran gaji ke-13 bagi aparatur sipil negara (ASN) dan pensiunan, yang turut meningkatkan daya beli masyarakat.
Selain itu, pemerintah juga memberikan berbagai insentif, termasuk potongan tarif transportasi selama masa liburan sekolah, untuk mendorong mobilitas dan konsumsi masyarakat. Kebijakan perlindungan sosial melalui penyaluran bantuan sosial (bansos) juga tetap berlanjut guna menjaga daya beli kelompok rentan.
Di samping itu, pelaksanaan berbagai program prioritas pembangunan, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), turut menjadi penopang permintaan domestik dan mendukung aktivitas ekonomi pada kuartal II-2026.
Senada, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memproyeksikan ekonomi kuartal II-2026 hanya tumbuh sebesar 5.12%, melambat dari kuartal sebelumnya.
Hal ini terutama disebabkan oleh net ekspor yang lebih lemah, seiring neraca barang Indonesia yang mulai defisit. Di sisi lain, komponen investasi diperkirakan menjadi pendorong utama, didorong oleh beberapa program pemerintah.
Kebijakan yang bisa mendorong investasi swasta menjadi salah satu hal paling mendesak untuk menjaga momentum pertumbuhan di semester II-2026.
“Investasi diharapkan nantinya akan berdampak ke daya beli (via rekrutmen tenaga kerja), sehingga bisa mendorong belanja masyarakat di tengah ruang fiskal yang terbatas,” terang David.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,4% pada kuartal II-2026. Namun demikian, pemerintah optimistis laju pertumbuhan akan meningkat pada semester II, ditopang terjaganya likuiditas dan penerapan kebijakan fiskal yang prudent.
“Kemarin [kuartal I-2026] 5,6%, mungkin kuartal II 5,4% sampai 5 point sekian,” kata Purbaya, Kamis (23/7/2026).
Purbaya belum memerinci proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk semester II-2026. Namun, dia optimistis kinerja ekonomi pada kuartal III dan IV akan lebih baik dibandingkan semester pertama.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi RI, pemerintah akan memastikan likuiditas di dalam sistem perekonomian tetap memadai. Dia menegaskan kecukupan likuiditas menjadi faktor penting untuk menopang aktivitas dunia usaha, investasi, dan konsumsi masyarakat.
“Karena kita pastikan cukup uang di sistem perekonomian untuk mendorong ekonomi,” ujar Purbaya.
(lav)





























