Logo Bloomberg Technoz

Adapun, sebagai sosok yang mengawal industri ini sejak awal saat masih menjadi Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) periode 2019—2024, Bahlil menyebut komitmennya dalam membangun ekosistem EV secara mandiri di dalam negeri.

Dia menceritakan kembali pengalamannya saat memfasilitasi investasi pabrik Hyundai di Indonesia, yang menjadi pionir produksi mobil listrik nasional.

Proyek tersebut mulanya merupakan salah satu investasi mangkrak bernilai Rp700—Rp800 triliun yang berhasil diselamatkan sewaktu dia menjabat sebagai Kepala BKPM.

"Saya adalah salah satu menteri yang ikut mengawal barang ini dari awal sejak saya masih menjabat Kepala BKPM. Siapa yang mendatangkan Hyundai dulu? Nota kesepahaman Hyundai itu saya tanda tangani pada November 2019," ujar Bahlil.

Menurut Bahlil, proyek pabrik mobil listrik dan baterai tersebut berhasil rampung dalam dua tahun setelah dikawalnya sejak masa pandemi Covid-19 pada 2020. Pengalaman itulah yang diklaimnya cukup untuk memahami industri kendaraan listrik di Tanah Air. 

"Saya kawal proyek itu di musim Covid-19 tahun 2020 dan dalam dua tahun proyek itu selesai. Jadi, baik baterai mobil maupun pabrik mobil listrik yang dibangun di sini, alhamdulillah saya sedikit banyak punya pengalaman," ujarnya.

Senyawa litium besi fosfat (LFP) dipamerkan di pameran InterBattery di Seoul, Korea Selatan./Bloomberg-SeongJoon Cho

Sebagai informasi, di Indonesia industri baterai EV berbasis nikel (NMC) salah satunya yang sudah berproduksi komersial adalah PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power, hasil usaha patungan atau joint venture (JV)  antara Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution. 

Proyek ini berlokasi di Karawang New Industry City (KNIC), Jawa Barat dan telah melakukan groundbreaking pada September 2021 dan resmi beroperasi pada Juli 2024.

Selain proyek Hyundai-LG, Indonesia juga telah meluncurkan megaproyek baterai EV terintegrasi yang melibatkan konsorsium BUMN yaitu PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan Indonesia Battery Corporation (IBC) yang bersinergi dengan raksasa baterai asal China, yaitu Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co., Ltd (CBL).

CBL adalah sebuah JV yang dibentuk oleh tiga perusahaan asal China lainnya yaitu: Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL), Guangdong Brunp Recycling Technology Co., Ltd. (Brunp), dan Lygend.

Proyek ini membagi rantai pasoknya di dua lokasi strategis: pemurnian bijih nikel (smelter hidrometalurgi) dan pemrosesan bahan katoda di Halmahera Timur, Maluku Utara, serta pabrik sel baterai PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) yang terletak di Karawang, Jawa Barat.

Dimulai bertahap sejak 2022–2024, unit sel baterai Karawang ini dirancang beroperasi penuh secara komersial mulai pertengahan 2026 dengan target total kapasitas mencapai 15 GWh (fase 1 dan 2) untuk menyokong kebutuhan 250.000 hingga 300.000 kendaraan listrik.

Secara keseluruhan, rantai produksi baterai NMC ini mencakup pengolahan bijih nikel menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), perintisan prekursor, pembuatan material aktif katoda, perakitan sel/pack baterai, hingga fasilitas daur ulang (recycling).

BMI, lengan riset dari Fitch Solutions Company, sebelumnya memperkirakan pertumbuhan permintaan nikel global pada 2026 hanya akan mencapai sekitar 3%, melambat dari pertumbuhan permintaan 2025 yang diprediksi sebesar 5,8%.

Dalam riset terbarunya, BMI mencatat terdapat peningkatan penggunaan baterai EV nonnikel seperti LFP, yang memiliki biaya lebih rendah dan umur siklus yang lebih panjang.

Berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA), pada 2024, pangsa pasar LFP di China naik menjadi 75% dari sebelumnya pada 2022 sekitar 62%. Sementara itu, di pasar global, pangsa pasar LFP naik menjadi 50% dari sebelumnya 38%.

Untuk baterai berbasis nikel, pangsa pasar pada 2024 turun menjadi 25% di China dari 34% pada 2022. Di pasar global, pada 2024 tercatat sebesar 46% dari sebelumnya pada 2022 sebesar 54%.

“Pergeseran komposisi ini kemungkinan akan menjaga sentimen pasar tetap lesu dan menahan pertumbuhan permintaan nikel meskipun ada dorongan makroekonomi yang lebih luas,” tulis BMI dalam risetnya, medio April.

(wdh)

No more pages