Logo Bloomberg Technoz

“Di tengah ketidakpastian global yang terus berlangsung, Indofood membukukan kinerja yang solid pada semester pertama di tahun 2026,” kata Direktur Utama & CEO Indofood Anthoni Salim lewat siaran pers, Senin (3/8/2026).

Anthoni Salim menegaskan perseroannya bakal fokus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan untuk grup Indofood.

“Menjaga keseimbangan antara pangsa pasar dan tingkat profitabilitas, serta mempertahankan posisi neraca yang sehat,” kata dia.

Utang Valas

Sebagian besar laba Indofood tergerus beban keuangan sekitar Rp5,38 triliun per Juni 2026, naik 143% dari posisi beban periode yang sama tahun lalu sekitar Rp2,21 triliun.

Adapun, rugi neto selisih kurs dari aktivitas pendanaan melonjak menjadi Rp3,39 triliun, naik hampir 15 kali lipat dari posisi periode sebelumnya sekitar Rp231 miliar.

Di sisi lain, INDF mencatat utang jangka panjang berdenominasi dolar AS mencapai Rp2,81 miliar atau setara Rp50,26 triliun, sebagian besar dari total utang obligasi Rp48,9 triliun.

Sementara itu, liabilitas neto dalam mata uang asing tercatat Rp27,99 triliun. Artinya, setiap pelemahan rupiah lanjutan akan menekan laba grup.

Lead Investment Analyst Stockbit Edi Chandren mengatakan pendapatan INDF relatif solid kendati terdilusi lonjakan belanja operasional atau Opex.

“Bogasari menjadi segmen yang outperform bagi INDF sementara consumer branded products di bawah Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) mencatat kinerja moderat,” kata Edi lewat catatannya, Senin (3/8/2026).

Edi mengatakan kerugian kurs selama semester I-2026 disebabkan karena aktivitas pendanaan atau obligasi, berbalik dari keuntungan kurs pada kuartal II-2025 dan semester I-2026 masing-masing sebesar Rp912 miliar dan Rp261 miliar.

“Sementara dari aktivitas operasional, INDF mencatat kenaikan keuntungan kurs ke level Rp1,2 triliun pada semester I-2026, yang kami duga dari pemulihan kurs operasional di Nigeria,” kata dia.

(naw)

No more pages