Hal yang memperparah kejatuhan ini adalah lonjakan dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) dengan leverage saham tunggal dan bobot indeks yang terkonsentrasi di negara tersebut.
Sejak itu, regulator Korea Selatan telah terjun untuk membatasi penggunaan instrumen-instrumen tersebut, dengan pemerintah berencana membatasi keterlibatan investor ritel dalam produk-produk berleverage, termasuk dengan membatasi eksposur hingga porsi tertentu dari total portofolio investor.
Morgan Stanley, yang memperkirakan Kospi akan bergerak dalam kisaran 5.500–10.500 dalam jangka pendek, melihat Samsung Electronics Co. dan SK Hynix Inc. sebagai penopang valuasi. Mereka memprediksi adanya faktor pendorong bagi saham-saham di sektor-sektor seperti industri, pertahanan, dan keuangan.
Morgan Stanley juga menaikkan rekomendasi saham Thailand menjadi “overweight” dari “equalweight” karena para analisnya melihat lebih banyak peluang di negara Asia Tenggara tersebut seiring peningkatan investasi langsung asing dan daya saingnya. Laba mulai membaik dan valuasi masih murah, sementara saham-saham utama diperkirakan akan mendapat manfaat dari tema belanja modal AI dan keamanan energi, tambah mereka.
Sementara itu, Morgan Stanley menurunkan rekomendasinya untuk Australia dari “equalweight” menjadi “underweight”, dengan alasan pasar menawarkan potensi kenaikan yang terbatas setelah beberapa kali kenaikan suku bunga dan reformasi pajak yang memangkas insentif untuk investasi properti. Sebelumnya, bank tersebut melihat potensi kenaikan di Australia berkat eksposur energinya di tengah konflik di Iran.
(bbn)



























