Logo Bloomberg Technoz

Kondisi tersebut membuat kilang-kilang yang masih beroperasi harus bekerja pada kapasitas maksimum untuk memenuhi permintaan, sehingga tidak mampu memproduksi lebih banyak bahan bakar meskipun pasokan minyak mentah tersedia untuk diolah. Akibatnya, margin keuntungan pengolahan bahan bakar mencapai rekor tertinggi, menguntungkan pemilik kilang tetapi pada saat yang sama meningkatkan biaya yang harus ditanggung konsumen.

Tren tersebut terlihat jelas di Amerika Serikat, di mana harga rata-rata bensin telah naik melampaui US$4 per galon, memicu frustrasi para pengendara maupun politisi, termasuk Presiden Donald Trump, yang dalam beberapa pekan terakhir mengkritik perusahaan-perusahaan minyak besar karena dinilai tidak cukup cepat menurunkan harga.

Harga bensin eceran saat ini hanya sekitar 10% di bawah puncaknya pada Mei tahun ini, meskipun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) telah turun 26% dari level tertingginya pada 2026.

"Pengilangan jelas merupakan titik kemacetan (bottleneck) dalam sistem perminyakan saat ini, dan margin keuntungannya berada pada level yang sangat tinggi," kata Neil Mehta, analis di Goldman Sachs Group Inc.

Titik tekanan terbesar saat ini berada pada produk distilat menengah (middle distillates), yang mencakup solar (diesel), bahan bakar jet, dan minyak pemanas, menurut CEO Chevron Mike Wirth.

Harga eceran solar saat ini hanya sekitar 6% di bawah level tertingginya tahun ini, padahal penurunan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mencapai empat kali lipat lebih besar. Menurut Wirth, pasar diperkirakan akan semakin ketat karena negara-negara di belahan bumi utara mulai menambah persediaan minyak pemanas menjelang musim dingin.

"Saya pikir kita akan melihat tekanan kenaikan harga produk bahan bakar pada kuartal ketiga, dan kemungkinan berlanjut setelahnya," ujar Wirth.

Pain at the Pump. (Sumber: American Automobile Association, Nymex, Bloomberg)

Menurut Rob Thummel, Senior Portfolio Manager di Tortoise Capital Advisors LLC, harga bensin mulai bergerak tidak lagi sejalan dengan harga minyak mentah, melainkan lebih dipengaruhi oleh tingkat penyimpanan atau persediaan (inventori).

"Persediaan produk hasil pengilangan kini mendekati level terendah dalam sejarah," ujarnya. "Pergerakan harga bensin saat ini tidak lagi terlalu mencerminkan perubahan harga minyak mentah, melainkan lebih dipengaruhi oleh perubahan tingkat persediaan."

ExxonMobil, yang mengoperasikan jaringan kilang minyak terbesar di dunia di luar China, memperkirakan tren tersebut akan terus berlanjut dalam waktu yang dapat diperkirakan. Pasalnya, kapasitas pengilangan saat ini sekitar 5 juta barel per hari tidak dapat memasok pasar global.

"Saya belum pernah melihat kapasitas pengilangan yang tersedia dibandingkan dengan permintaan berada pada level serendah sekarang," kata CEO ExxonMobil Darren Woods dalam konferensi dengan para analis. "Industri ini akan membutuhkan waktu untuk keluar dari kondisi tersebut."

Ini bukan pertama kalinya tahun ini pelaku industri minyak memperingatkan besarnya risiko terhadap sistem energi global. Sebelumnya, sejumlah analis memperkirakan harga minyak bisa melonjak hingga US$200 per barel jika Selat Hormuz tetap ditutup dalam jangka waktu lama. Namun, meski konflik berlangsung berkepanjangan, harga minyak tidak pernah mendekati level tersebut.

Kali ini, situasinya bisa berbeda.

Kilang-kilang ExxonMobil di Pantai Teluk AS (Gulf Coast) beroperasi dengan tingkat utilisasi 95% pada kuartal II, sementara fasilitas Chevron di Amerika Serikat bahkan mencapai 97%, menunjukkan ruang untuk meningkatkan produksi hampir tidak ada. Shell Plc mengoperasikan kilangnya pada tingkat utilisasi 102% selama periode tersebut, meski memperkirakan angkanya akan turun pada kuartal ini karena adanya jadwal pemeliharaan rutin.

"Ketidakpastian geopolitik telah memperketat kondisi pasar dan semakin menegaskan pentingnya pasokan yang andal," kata Chief Financial Officer Chevron Eimear Bonner dalam sebuah wawancara. "Faktor-faktor penyangga yang selama ini membantu meredam volatilitas pasar terus terkuras."

(bbn)

No more pages