Pada Jumat, Trump kembali mengatakan kepada wartawan bahwa "kami sudah memiliki kesepahaman dengan Israel. Israel sangat senang dengan hal itu. Israel membantu kami, dan mereka sangat kooperatif."
Dewan Perdamaian melalui unggahannya di platform X menyatakan jadwal pelaksanaan rencana Trump untuk Gaza—yang disepakati pada Oktober tahun lalu—akan disusun dalam waktu 14 hari setelah seluruh pihak memberikan persetujuan terhadap rencana tersebut.
Hingga kini, pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu belum memberikan tanggapan resmi.
Perwakilan Tinggi Dewan Perdamaian untuk Gaza, Nickolay Mladenov, dalam unggahannya di X menegaskan bahwa "penarikan pasukan harus berjalan seiring dengan proses penonaktifan senjata."
Berbagai pernyataan yang muncul menunjukkan bahwa terobosan untuk mengakhiri kebuntuan selama berbulan-bulan di Gaza belum akan tercapai dalam waktu dekat. Sejak kesepakatan damai yang didorong Trump ditandatangani pada Oktober lalu, Israel dan Hamas masing-masing menguasai sekitar separuh wilayah Gaza. Kesepakatan tersebut mengakhiri perang selama dua tahun yang dipicu serangan Hamas pada Oktober 2023 terhadap permukiman dan pangkalan militer Israel yang menewaskan sekitar 1.200 warga Israel.
Trump mengatakan Israel akan menarik pasukannya dari Gaza setelah proses pelucutan senjata Hamas selesai. Setelah itu, Pasukan Stabilisasi Internasional akan bekerja sama dengan kepolisian Palestina yang baru untuk mengambil alih tanggung jawab keamanan di Gaza.
Namun, jadwal pasti penarikan pasukan Israel dari Gaza masih harus dirampungkan, menurut pejabat AS dan Dewan Perdamaian. Mereka menjelaskan bahwa Pasukan Stabilisasi Internasional juga akan mendukung proses pelucutan senjata, dengan senjata pertama yang diserahkan berasal dari kepolisian di Gaza.
Mereka menambahkan, setiap tahapan dalam rencana tersebut akan melalui proses verifikasi.
Trump pada Jumat menyebut kesepakatan itu sebagai "terobosan besar" dan mengatakan banyak pihak sebelumnya menganggap rencana tersebut "mustahil diwujudkan," meski ia mengakui prosesnya masih akan menghadapi berbagai tantangan.
"Sekarang, apakah proses ini akan mengalami pasang surut? Situasinya di sana sangat kompleks," kata Trump. "Orang-orang di sana juga sangat kompleks dan sulit. Dalam banyak kasus mereka luar biasa, tetapi dalam banyak kasus lainnya tidak demikian."
Dalam rencana 20 poin yang diajukan Trump, seluruh sandera Hamas yang masih hidup maupun yang telah meninggal dipulangkan dari Gaza. Langkah itu membuka jalan bagi perubahan pemerintahan dan rekonstruksi wilayah tersebut. Gaza mengalami kehancuran besar akibat perang Israel-Hamas, dengan sebagian besar kawasan perkotaan luluh lantak akibat pemboman Israel dan diperkirakan sekitar 70.000 warga Palestina tewas.
Setiap penyelesaian konflik di Gaza juga diperkirakan akan berdampak pada situasi yang lebih luas di Timur Tengah. Hamas merupakan kelompok yang didukung Iran, yang menjadi sasaran serangan AS dan Israel pada Februari lalu.
Konflik tersebut kemudian berkembang menjadi perang yang membuat Republik Islam Iran melancarkan serangan ke sejumlah negara di kawasan, termasuk Israel.
(bbn)





























