Logo Bloomberg Technoz

Butuh Penelitian

Arif menegaskan proses ekstraksi dan pemurnian LTJ atau rare earth elements (REE) dari nikel masih memerlukan penelitian dan kajian lebih lanjut, baik dari sisi teknologi maupun keekonomiannya.

Dia menilai rencana pengembangan LTJ dari nikel perlu dirancang secara proporsional dan diterapkan secara bertahap. Arif menegaskan tahapan tersebut memerlukan masa transisi yang jelas.

“Di sisi lain, industri hilirisasi nikel Indonesia masih berusia relatif muda dan saat ini tengah menghadapi tekanan yang berat pada bisnis utamanya,” kata Arif.

Arif menjelaskan nilai tambah terbesar dari LTJ terletak pada proses pemisahan dan pemurnian. Untuk itu, dia menyarankan arah kebijakan LTJ difokuskan untuk mendorong terbentuknya ekosistem hilir yang dapat melaksanakan proses tersebut secara khusus.

Lebih lanjut, dia menyebut fasilitas smelter nikel saat ini dibangun untuk mengolah bijih nikel menjadi produk antara atau intermediate. Sejumlah fasilitas tersebut, antara lain; smetler berbasis high pressure acid leaching (HPAL), rotary kiln electric furnace (RKEF), hingga oxygen-enriched side-blown furnace (OESBF).

Sekadar catatan, berdasarkan data Balai Besar Pengujian Mineral dan Batu Bara (Tekmira) Ditjen Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), terdapat empat unsur LTJ di dalam bijih nikel laterit yakni scandium (Sc), neodymium (Nd), praseodymium (Pr), dan dysprosium (Dy).

Tekmira mencatat LTJ dalam bijih nikel laterit terdiri atas skandium (Sc) sebesar 52 parts per million (ppm), neodimium (Nd) 18 ppm, praseodimium (Pr) 60 ppm, serta dysprosium (Dy) 8 ppm.

“LTJ yang terdapat dalam bijih nikel laterit adalah 52 ppm Sc, 18 ppm Nd, 60 ppm Pr, 8 ppm Dy. Perolehan Sc dan LTJ lainnya didapatkan dari produk samping proses HPAL nikel-cobalt,” tulis Tekmira dalam Booklet Tanah Jarang ESDM.

Dalam dokumen Tekmira dijelaskan unsur-unsur LTJ tersebut tidak menjadi produk utama pengolahan nikel.

Kandungannya dapat diperoleh sebagai produk sampingan atau byproduct dari pengolahan bijih nikel laterit melalui proses hidrometalurgi di pabrik berbasis high pressure acid leaching (HPAL) yang digunakan untuk memproduksi nikel-kobalt.

Tekmira memperkirakan enam smelter HPAL di Indonesia berpotensi menghasilkan sekitar 1.342 ton scandium oksida (Sc2O3) per tahun.

Perhitungan tersebut menggunakan asumsi kandungan scandium sekitar 50 ppm, tingkat pemulihan sebesar 80%, dan kapasitas pengolahan sekitar 29,2 juta ton bijih nikel laterit per tahun.

Ekspor nickel pig iron (NPI) sempat tertahan di Bea Cukai gegara harus menjalankan pemeriksaan unsur LTJ dan unsur radioaktif, tetapi kondisi tersebut disebut-sebut telah berangsur normal.

Shanghai Metals Market (SMM) dalam catatannya mengungkapkan dalam rapat koordinasi yang digelar di Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Senin (27/7/2026), diputuskan bahwa aturan yang mengatur LTJ bakal disusun

Aturan tersebut bakal mengatur definisi LTJ, ambang batas kandungan LTJ, metode pengujian, dan prosedur verifikasi ekspor.

SMM mengungkapkan saat ini terdapat sekitar 102 laporan surveyor (LS) yang masih tertunda penerbitannya, gegara perbedaan interpretasi mengenai penangan LTJ dalam verifikasi ekspor.

Menurut data Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), saat ini terdapat 120 proyek smelter pirometalurgi berbasis RKEF di Indonesia yang membutuhkan total 584,9 juta ton bijih nikel.

Perinciannya; sebanyak 49 sudah beroperasi dengan kebutuhan 240,2 juta ton bijih nikel, 35 masih dalam tahap konstruksi dengan taksiran kebutuhan 150,3 juta ton bijih, dan 36 masih dalam tahap perencanaan dengan estimasi kebutuhan 194,5 juta ton bijih.

Sementara itu, proyek hidrometalurgi atau HPAL hanya sebanyak 27 dengan kebutuhan total 150,3 juta ton bijih nikel.

Perinciannya; sebanyak 5 sudah beroperasi dengan kebutuhan 48,2 juta ton bijih nikel, 3 masih dalam tahap konstruksi dengan taksiran kebutuhan 33,6 juta ton bijih, dan 19 masih dalam tahap perencanaan dengan estimasi kebutuhan 68,5 juta ton bijih.

Dengan demikian, total proyek smelter nikel di Indonesia mencapai 147 proyek dengan estimasi total kebutuhan bijih 735,2 juta ton.

(azr/wdh)

No more pages