Meski demikian, Unilever masih membukukan pertumbuhan kinerja operasional. Penjualan bersih dari operasi berkelanjutan mencapai Rp16,9 triliun, naik 7,1% secara tahunan (year-on-year), ditopang pertumbuhan penjualan domestik sebesar 7,1% dan pertumbuhan volume dasar sebesar 7,3%.
Laba bersih dari operasi berkelanjutan juga meningkat 10,2% menjadi Rp2,08 triliun, sementara laba usaha naik menjadi Rp2,59 triliun dari Rp2,54 triliun pada semester I-2025.
Presiden Direktur Unilever Indonesia Benjie Yap mengatakan kinerja semester pertama tahun ini menandai kuartal keempat berturut-turut perseroan mencatatkan pertumbuhan.
"Kinerja semester pertama 2026 mencerminkan hasil positif dari upaya kami memperkuat fundamental bisnis. Kami berhasil mencatatkan pertumbuhan positif baik pada penjualan maupun laba, didukung oleh pertumbuhan volume yang kuat, yang mencerminkan semakin baiknya eksekusi di pasar," ujar Benjie dalam keterangan resminya.
Menurutnya, perseroan akan tetap menjalankan strategi yang berfokus pada penguatan kategori produk, saluran penjualan, serta disiplin biaya guna menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan di tengah kondisi pasar yang masih dinamis.
Meski laba meningkat, kemampuan perseroan menghasilkan kas dari kegiatan operasional melemah. Arus kas bersih dari aktivitas operasi tercatat sebesar Rp494,13 miliar, turun signifikan dibandingkan Rp1,81 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan itu terjadi setelah pembayaran pajak penghasilan badan melonjak menjadi Rp1,72 triliun, dari Rp466,3 miliar pada semester I-2025.
Sementara itu, arus kas dari aktivitas investasi masih mencatat surplus Rp53,64 miliar, ditopang penerimaan kas dari pelepasan operasi yang dihentikan sebesar Rp1,5 triliun, meski sebagian diimbangi pembayaran pajak terkait transaksi tersebut serta belanja modal sebesar Rp533,67 miliar.
(fik/naw)






























