“Secara historis, kilang-kilang minyak di Indonesia dirancang untuk mengolah minyak mentah light–sweet dalam negeri misalnya Minas dan Attaka, bersamaan dengan minyak mentah asam yang diimpor dari Timur Tengah misalnya Arab Light, Iranian Light,” kata Yayan dalam risetnya, dikutip Senin (27/7/2026).
Adapun, minyak mentah Minas asal Sumatra dijadikan acuan perbandingan dengan tingkat kecocokan sebesar 100%.
Yayan menegaskan kilang-kilang di Indonesia sejak awal dikonfigurasi untuk mengolah minyak mentah domestik jenis light-sweet, seperti Minas dan Attaka. Minas memiliki API gravity 34,5 derajat, kandungan sulfur 0,08%, serta TAN sebesar 0,06 mg KOH/g.
Dalam riset yang sama, Yayan membeberkan sejumlah kilang di Indonesia yang dinilai dapat mengolah minyak mentah ESPO tanpa pencampuran atau blending lebih lanjut:
Kilang Balikpapan
Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan atau Kilang Balikpapan dengan kapasitas 360.000 barel per hari (bph) dinilai dapat mengolah minyak mentah ESPO, sebab dilengkapi residual fluid catalytic cracking (RFCC) dan berbagai unit hydroprocessing yang membuatnya lebih fleksibel mengolah berbagai jenis minyak mentah.
Kilang Cilacap
Yayan menjelaskan Kilang Cilacap menjadi salah satu fasilitas yang dapat mengolah ESPO secara langsung.
Kilang berkapasitas 348.000 bph itu merupakan kompleks pengolahan yang dilengkapi dua unit distilasi, high vacuum unit (HVU), residual catalytic cracking (RCC), serta hydrocracker unit (HCU).
Kilang Balongan
Yayan menjelaskan Kilang Balongan yang memiliki kapasitas 125.000 bph mempunyai Nelson Complexity Index (NCI) sekitar 11,9 atau tertinggi di Indonesia, serta dilengkapi unit atmospheric residue hydrodemetallization (ARHDM) yang dirancang untuk mengolah minyak mentah berkualitas lebih rendah dan berat.
Dengan spesifikasi tersebut, ESPO dinilai dapat diproses tanpa memerlukan tingkat pengolahan yang tinggi.
Selain ketiga kilang tersebut, Yayan mengungkapkan Kilang Dumai dan Kilang Plaju dapat mengolah minyak mentah ESPO, tetapi melalui skema co-blending.
Pada kedua kilang tersebut, kata Yayan, minyak ESPO dapat dicampurkan sekitar 20% hingga 40% dengan kondensat domestik yang lebih ringan sebelum masuk ke proses pengolahan.
Sebelumnya, minyak mentah asal Rusia jenis ESPO terdeteksi telah memasuki Indonesia melalui Pelabuhan Lawe-Lawe usai diangkut melalui kapal tanker Sierra berbendera Kamerun.
Berdasarkan data Big Trade Data yang direkapitulasi Bloomberg, sebanyak 770.000 barel minyak telah dikirim ke pelabuhan di Kalimantan Timur tersebut pada 29 Juni 2026, dengan nilai sekitar US$75 juta.
Untuk diketahui, Pelabuhan Lawe-Lawe merupakan salah satu pintu masuk crude ke Kilang Balikpapan. PT Pertamina Patra Niaga (PPN) tercatat memiliki dua tangki penyimpanan minyak mentah di terminal Lawe-Lawe dengan kapasitas masing-masing 1 juta barel.
Selain itu, PPN juga memiliki fasilitas single point mooring (SPM) dengan kapasitas 320.000 dead weight ton (dwt). Fasilitas SPM tersebut tersambung dengan pipa ke pelabuhan Lawe-Lawe dan dari pelabuhan tersebut menuju Kilang Balikpapan.
Berdasarkan pantauan data pelayaran Marine Traffic, tanker Sierra telah meninggalkan Lawe-Lawe pada 30 Juni 2026. Saat ini tanker tersebut sudah berada kembali ke area labuh jangkar di Pelabuhan Vladivostok, Rusia.
Kapal pengangkut minyak mentah tersebut tercatat terkena sanksi oleh sejumlah negara, antara lain, di antaranya: Inggris, Uni Eropa (UE), Kanada, Australia, Ukraina, hingga Selandia Baru.
(azr/wdh)





























