Yayan mengungkapkan, pada unit hydrodesulfurization (HDS), suhu operasi reaktor gas oil perlu dinaikkan sekitar 5—12 derajat celcius karena kandungan sulfur ESPO sebesar 0,535% lebih tinggi dibandingkan dengan minyak domestik seperti Minas yang mengandung sulfur di bawah 0,1%.
Selain itu, tekanan parsial hidrogen dan rasio hidrogen terhadap minyak juga perlu ditingkatkan agar proses penghilangan senyawa sulfur berlangsung optimal.
Dia menekankan siklus penggunaan katalis dapat berkurang sekitar 5%—8% apabila kilang mengolah ESPO 100% tanpa pencampuran.
“Durasi siklus katalis dapat berkurang sebesar 5%—8% jika menggunakan 100% bahan baku ESPO tanpa pencampuran,” tegasnya.
Yayan menyatakan penyesuaian perlu diperlukan pada unit desalting, yakni temperatur minyak mentah sebelum memasuki desalter perlu dijaga di atas 125—135 derajat celcius agar kandungan parafin larut sempurna.
Dia juga menilai adanya penambahan demulsifier non-ionik sebesar 10—15 part per million (ppm) untuk memecah emulsi minyak-air, serta menjaga efisiensi proses desalting dua tahap di atas 98,5%.
“Menjaga efisiensi penghilangan garam secara elektrik dua tahap di atas 98,5% untuk membatasi masuknya garam ke dalam pemanas distilasi atmosferik hingga < 3,0 pon per seribu barel,” terangnya.
Yayan menyatakan tingginya produksi middle distillate dari ESPO yang mencapai lebih dari 52% pada rentang titik didih 150—350 derajat celcius, membuat kilang perlu menyesuaikan cut-point, temperatur tray, serta rasio refluks pada kolom distilasi.
Dia menjelaskan penyesuaian tersebut bertujuan mengoptimalkan produksi heavy naphtha sebagai bahan baku untuk bensin, sekaligus memaksimalkan perolehan avtur, dan solar melalui unit hydrocracker sesuai kebutuhan.
Dalam riset yang sama, Yayan membeberkan sejumlah kilang di Indonesia yang dinilai dapat mengolah minyak mentah ESPO tanpa pencampuran atau blending lebih lanjut:
Kilang Balikpapan
RDMP Balikpapan atau Kilang Balikpapan yang bernilai investasi US$7,4 miliar dengan kapasitas 360.000 barel per hari (bph) dinilai dapat mengolah minyak mentah ESPO, sebab dilengkapi residual fluid catalytic cracking (RFCC) dan berbagai unit hydroprocessing yang membuatnya lebih fleksibel mengolah berbagai jenis minyak mentah.
Kilang Cilacap
Yayan menjelaskan Kilang Cilacap, yang juga akan dikembangkan menjadi RDMP dengan nilai US$5—US$6 miliar, menjadi salah satu fasilitas yang dapat mengolah ESPO secara langsung.
Kilang berkapasitas 348.000 bph itu merupakan kompleks pengolahan yang dilengkapi dua unit distilasi, high vacuum unit (HVU), residual catalytic cracking (RCC), serta hydrocracker unit (HCU).
Kilang Balongan
Yayan menjelaskan Kilang Balongan yang memiliki kapasitas 125.000 bph mempunyai Nelson Complexity Index (NCI) sekitar 11,9 atau tertinggi di Indonesia, serta dilengkapi unit atmospheric residue hydrodemetallization (ARHDM) yang dirancang untuk mengolah minyak mentah berkualitas lebih rendah dan berat
Dengan spesifikasi tersebut, ESPO dinilai dapat diproses tanpa memerlukan tingkat pengolahan yang tinggi.
Selain ketiga kilang tersebut, Yayan mengungkapkan Kilang Dumai dan Kilang Plaju dapat mengolah minyak mentah ESPO, tetapi melalui skema co-blending.
Pada kedua kilang tersebut, kata Yayan, minyak ESPO dapat dicampurkan sekitar 20% hingga 40% dengan kondensat domestik yang lebih ringan sebelum masuk ke proses pengolahan.
Dilaporkan sebelumnya, minyak mentah asal Rusia jenis ESPO terdeteksi telah memasuki Indonesia melalui Pelabuhan Lawe-Lawe usai diangkut melalui kapal tanker Sierra berbendera Kamerun.
Berdasarkan data Big Trade Data, sebanyak 770.000 barel minyak telah dikirim ke pelabuhan di Kalimantan Timur tersebut pada 29 Juni 2026, dengan nilai sekitar US$75 juta.
Untuk diketahui, Pelabuhan Lawe-Lawe merupakan salah satu pintu masuk crude ke Kilang Balikpapan. PT Pertamina Patra Niaga (PPN) tercatat memiliki dua tangki penyimpanan minyak mentah di terminal Lawe-Lawe dengan kapasitas masing-masing 1 juta barel.
Selain itu, PPN juga memiliki fasilitas single point mooring (SPM) dengan kapasitas 320.000 dead weight ton (dwt). Fasilitas SPM tersebut tersambung dengan pipa ke pelabuhan Lawe-Lawe dan dari pelabuhan tersebut menuju Kilang Balikpapan.
Berdasarkan pantauan data pelayaran Marine Traffic, tanker Sierra telah meninggalkan Lawe-Lawe pada 30 Juni 2026. Saat ini tanker tersebut sudah berada kembali ke area labuh jangkar di Pelabuhan Vladivostok, Rusia.
Kapal pengangkut minyak mentah tersebut tercatat terkena sanksi oleh sejumlah negara, antara lain, di antaranya: Inggris, Uni Eropa (UE), Kanada, Australia, Ukraina, hingga Selandia Baru.
(azr/wdh)































