Akan tetapi, dia menegaskan saat ini pemerintah berpotensi mendapatkan pendapatan tambahan dari revisi RKAB batu bara.
“Kalau RKAB-nya di-adjust aman mestinya sih. Kayaknya sudah kalau perintah Presiden sudah clear itu RKAB di-adjust,” tegas dia.
Adapun, Kementerian ESDM mencatat realisasi produksi batu bara sepanjang Januari—Juni 2026 mencapai 367,06 juta ton atau sekitar 61,18% dari kuota produksi RKAB 2026 yang sekitar 600 juta ton.
Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Kementerian ESDM Asep Kurnia Permana mencatat batu bara yang dipasok ke pasar domestik melalui skema domestic market obligation (DMO) mencapai 81,58 juta ton pada rentang yang sama.
Sementara itu, ekspor batu bara dilaporkan mencapai 231,06 juta ton atau setara dengan US$14,09 miliar pada semester I-2026.
“Untuk 2026 ini targetnya sekitar 733 juta ton untuk produksi, dan realisasinya sampai dengan Juni itu ada sekitar 360 juta,” kata Asep dalam agenda Indonesia Coal Mining Forum, Rabu (15/7/2026).
Berdasarkan negara tujuannya, ekspor batu bara sepanjang Januari—Juni 2026 paling besar ke China dengan volume 87 juta ton, diikuti India 43 juta ton, dan Filipina 19 juta ton.
Sekadar informasi, Dirjen Minerba Kementerian ESDM menegaskan persetujuan revisi RKAB 2026 komoditas batu bara bakal diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit domestik.
Dengan kata lain, besaran tambahan kuota produksi batu bara yang bakal disetujui Kementerian ESDM pada semester II-2026 bakal mempertimbangkan kepentingan sektor kelistrikan.
“Kita sudah sampaikan bahwa revisi oke, boleh mengajukan, tetapi nanti kita sisir berapa kebutuhan PLN itu. Jadi kita hanya mengutamakan untuk, ya, kebutuhan domestik,” kata Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno usai agenda Indonesia Coal Mining Forum, Rabu (15/7/2026).
Tri menegaskan usai kebutuhan batu bara PLN terpenuhi, maka nantinya Kementerian ESDM bakal memilah kembali pengajuan revisi RKAB.
Kendati begitu, dia enggan mengungkapkan besaran kuota produksi tambahan yang bakal disetujui.
“Belum, belum. Nanti penambahan, yang jelas kan kita sudah tahu kira-kira kebutuhan PLN, utamanya yang medium range [batu bara kalori menengah] di angka berapa. Kan kita sudah ada, nah itu yang kita exercise untuk yang [persetujuan pengajuan revisi RKAB] nanti,” tegas dia.
Adapun, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung melaporkan setoran pendapatan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor energi dan pertambangan sepanjang Januari—12 Juli 2026 mencapai Rp85,58 triliun.
Yuliot menyatakan capaian tersebut setara 62,84% dari target setoran PNBP sepanjang 2026 senilai Rp136,18 triliun.
Dia menjelaskan setoran tersebut didapatkan dari iuran produksi, royalti mineral dan batu bara (minerba), penjualan hasil tambang, keuntungan bersih izin usaha pertambangan khusus (IUPK), dan pendapatan sumber daya alam lainnya.
“Sementara untuk Tahun [Anggaran] 2026 sampai dengan 12 Juli 2026, realisasi PNBP Kementerian ESDM sebesar Rp 85,58 triliun atau 62,84% dari target sebesar Rp 136,18 triliun,” kata Yuliot dalam RDP dengan Komisi XII, Kamis (16/7/2026).
Sekadar catatan, Kementerian ESDM memangkas target produksi batu bara pada tahun ini di dalam RKAB 2026. Produksi batu bara pada RKAB 2026 menjadi sekitar 600 juta ton, turun dari realisasi produksi pada 2025 sebanyak 817,48 juta ton.
(wdh)































