“Ketika tekanan global meningkat seperti ketidakpastian geopolitik atau arah suku bunga global/FFR, investor asing cenderung keluar karena takut merugi akibat pelemahan rupiah,” jelasnya.
Menurut Rahma, dengan memberikan insentif penurunan tingkat premi swap atau tambahan premi bagi swap beli lindung nilai, BI memberikan kepastian dan menanggung sebagian biaya proteksi nilai tukar mereka. Hal ini membuat imbal hasil bersih (net return) bagi investor asing menjadi jauh lebih menarik tanpa mengganggu struktur suku bunga domestik.
Di sisi lain, dia menyebut kebijakan BI tentang insentif swap hedging serta perluasannya secara berkala diterapkan sebagai respons taktis atas dinamika eksternal spesifik yang menekan likuiditas valas dan stabilitas rupiah.
Kebijakan tersebut diaktifkan atau diperkuat ketika tekanan eksternal meningkat seperti eskalasi geopolitik di Timur Tengah atau pergerakan tren suku bunga global yang membuat dolar AS perkasa.
Dia menuturkan, pada fase-fase awal tekanan bank sentral lazimnya mengandalkan stabilisasi konvensional yaitu intervensi pasar spot dan DNDF. Namun, ketika tekanan terhadap arus modal keluar (capital outflow) dan kebutuhan likuiditas valas kian ketat, BI memerlukan instrumen yang secara spesifik mengunci ekspektasi pasar valas dalam jangka menengah.
“Insentif swap menjadi pilihan paling rasional untuk menjaga cadangan devisa sekaligus menahan dana asing agar tetap parkir di instrumen domestik,” tuturnya.
Sebelumnya, BI melaporkan akan memberikan insentif berupa penurunan tingkat swap lindung nilai atau hedging swap sebesar 10% bagi investor asing. Hal ini dilakukan untuk semakin meningkatkan daya tarik masuknya investor asing serta mengkompensasi kewajiban yang selama ini ditanggung investor.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan insentif tersebut diberikan dalam rangka mengoptimalkan seluruh instrumen moneter yang dimiliki bank sentral.
"BI juga memperluas instrumen operasi moneter valuta asing dengan instrumen spot dan swap dalam valuta offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah," kata Perry dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur BI Periode Juli 2026, Rabu (22/7/2026).
Perluasan instrumen operasi moneter itu sejalan dengan meluasnya penggunaan mata uang lokal atau local currency transaction (LCT) untuk penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi.
Ke depan, dia menambahkan, bank sentral akan terus memperluas pemberian insentif untuk tetap menarik aliran masuk modal asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
BI meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh berbagai penguatan stabilisasi rupiah, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diklaim tetap baik.
(mfd/ell)






























