Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, Tungkot menilai bahwa penerapan B50 akan memicu efek pengetatan pasokan (supply tightness) di pasar internasional.

Penyebabnya, volume ekspor dari Indonesia akan berkurang demi memenuhi kebutuhan dalam negeri, yang pada akhirnya menyebabkan harga CPO global bertahan di level stabil tinggi atau bahkan melonjak lebih jauh.

"Indonesia sebagai produsen terbesar secara praktis menjadi penentu harga [price maker], bukan lagi sekadar pengikut pasar," tegasnya.

Mengutip data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) potensi penghematan devisa negara yang sangat signifikan dari program B50 bahkan mencapai Rp157,28 triliun.

Angka ini meningkat sekitar 17,9% dibandingkan dengan realisasi penghematan devisa tahun sebelumnya atau saat penerapan B40 yang sebesar Rp133,3 triliun.

Kementerian ESDM juga mencatat bahwa program B50 tidak hanya menghemat devisa, tetapi juga menciptakan dampak pengganda bagi perekonomian nasional.

Misalnya, potensi terciptanya nilai tambah CPO sebesar Rp24,68 triliun, penyerapan 2,21 juta tenaga kerja, serta penurunan emisi gas rumah kaca hingga 46,72 juta ton. 

Untungkan Produsen

Tungkot menambahkan kombinasi antara harga CPO yang bullish dan mandatori B50 juga akan memberikan keuntungan bagi produsen biodiesel.

Namun, hal tersebut memiliki syarat utama, yaitu; mekanisme insentif atau subsidi dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) harus berjalan efektif.

“Kebijakan B50 merupakan mandatori pemerintah, yang berarti produsen biodiesel atau fatty acid methyl ester [FAME] mendapatkan jaminan alokasi kuota penjualan dari negara,” ungkap dia. 

Tingginya volume produksi ini mendorong terciptanya skala ekonomi, yang pada akhirnya menurunkan biaya produksi per unit di pabrik biodiesel.

Saat harga CPO melambung, harga bahan baku utama biodiesel otomatis menjadi mahal. Kondisi ini menyebabkan Harga Indeks Pasar (HIP) Biodiesel lebih tinggi daripada HIP Solar fosil.

Dalam skema mandatori di Indonesia, selisih harga (gap) tersebut ditutup oleh dana insentif BPDP yang dihimpun dari tarif pungutan ekspor (PE) CPO

"Selama dana BPDP mencukupi, margin keuntungan produsen biodiesel tetap aman dan terjamin karena harga jual mereka terproteksi," tambah Tungkot.

Pendanaan Aman

Dalam kesempatan terpisah, menanggapi kekhawatiran terkait potensi pembengkakan beban insentif akibat tingginya harga CPO dan besarnya volume B50, Direktur Utama BPDP Eddy Abdurrachman memastikan kondisi keuangan lembaga yang dipimpinnya masih dalam posisi aman.

"Peningkatan volume ini tentu akan memberikan tambahan beban pada BPDP. Namun, komite pengawas telah memastikan bahwa arus kas kita sampai sekarang masih sangat baik. Artinya, penerimaan kita, terutama dari pungutan ekspor CPO, tetap tinggi," ujar Eddy saat agenda Pekan Sawit Indonesia, Senin (20/10/2026).

Eddy juga menegaskan peningkatan alokasi CPO untuk kebutuhan B50 di dalam negeri tidak serta-merta menggerus volume ekspor nasional, mengingat validitas data produksi terus dipantau secara ketat.

"Meskipun pertumbuhan produksi cenderung stagnan, hal itu ternyata tidak menggerus volume ekspor sama sekali. Kami menghitung data produksi ini secara betul-betul presisi, dan sampai saat ini ekspor CPO Indonesia tetap terjaga," pungkasnya.

Produksi CPO untuk menopang program biodiesel 2025-2026./dok. BMI

Harga TBS

Dari sisi hulu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengatakan dominasi penggunaan CPO di domestik justru akan mendorong peningkatan harga tandan buah segar (TBS) petani akibat adanya pengetatan pasokan minyak nabati di pasar global.

“Kalau implementasi B50 menyebabkan ekspor berkurang, yang terjadi justru kenaikan harga minyak nabati dunia termasuk minyak sawit apabila suplai minyak nabati lain stagnan atau berkurang. Ini justru akan meningkatkan harga CPO dalam negeri, ujung-ujungnya harga TBS petani juga akan naik,” ujar Eddy saat dihubungi, Kamis (23/7/2026).

Menurutnya, ketika pasokan minyak sawit di pasar internasional berkurang sementara permintaan tetap tinggi, harga minyak nabati global berpotensi meningkat.

Kondisi ini dapat memberikan sentimen positif terhadap harga CPO Indonesia dan pada akhirnya meningkatkan harga TBS yang diterima petani.

Dari perspektif pasar, pengalihan volume tersebut berpotensi mengurangi ketersediaan minyak sawit di pasar global.

Jika produksi minyak nabati pesaing seperti kedelai, bunga matahari, maupun rapeseed tidak mengalami peningkatan signifikan, maka harga minyak sawit dunia berpotensi menguat.

“Kenaikan harga global tersebut dapat menjadi faktor penopang harga CPO domestik, sehingga berpeluang memberikan keuntungan bagi pelaku industri sawit maupun petani,” jelasnya.

Meski begitu, Eddy mengingatkan bahwa kebijakan PE CPO tetap menjadi faktor krusial.

Menurut Eddy, apabila penerimaan dana dari pungutan ekspor menurun akibat berkurangnya volume ekspor, lalu pemerintah kembali menaikkan tarif pungutan ekspor untuk membiayai program biodiesel, maka dampaknya justru dapat berbalik menekan harga CPO dalam negeri.

“Kalau kemudian pungutan ekspor berkurang lalu PE dinaikkan lagi, maka ini yang akan menekan harga CPO dalam negeri dan juga harga TBS petani,” tegasnya.

Outlook Harga

Untuk diketahui, harga CPO global diperkirakan bergerak dalam tren penguatan dan tertahan di level stabil tinggi hingga akhir tahun ini, ditopang oleh ketatnya pasokan akibat penurunan ekspor yang dipicu kebijakan mandatori biodiesel B50 dari Indonesia.

Menurut analis komoditas sekaligus pendiri Traderindo Wahyu Laksono harga acuan CPO di Bursa Malaysia Derivatif (MDEX) akan bergerak dalam rentang stabil di kisaran RM4.200—RM5.000/ton (setara dengan US$1.026—US$1.221) pada semester II-2026.

"Outlook harga CPO hingga akhir tahun ini diperkirakan berada dalam fase volatilitas tinggi, tetapi dengan tendensi konsolidasi yang kuat. Memasuki paruh kedua 2026, harga acuan berjangka di MDEX terpantau mulai stabil dan berkonsolidasi di kisaran RM4.200 hingga RM5.000 per metrik ton," ujar Wahyu saat dihubungi, Selasa (22/7/2026).

Angka ini menguat dibandingkan dengan harga rata-rata tahun sebelumnya yang bergerak volatil di rentang RM3.700—RM4.000 (setara dengan US$904—US$977) per metrik ton.

Di sisi lain, secara year to date (ytd), harga CPO menunjukkan pola pergerakan konsolidasi yang cenderung naik (bullish).

Pada awal tahun, harga CPO kembali melesat hingga menembus level RM4.600 (setara dengan US$1.123) per metrik ton.

“Dorongan utama di balik penguatan harga ini adalah implementasi mandatori B50 dari Pemerintah Indonesia. Program ini diperkirakan menyerap 16—18 juta kiloliter [kl] CPO domestik sepanjang tahun ini atau sekitar 35% dari total produksi CPO nasional,” terang Wahyu.

(smr/wdh)

No more pages