Logo Bloomberg Technoz

Mengenal VAAC Darwin, Pengawas Abu Vulkanik Indonesia

Merinda Faradianti
07 September 2026 12:20

Pengamatan visual Gunungapi Anak Krakatau melalui CCTV Pos Pasauran tanggal 7 September 2026 pukul 05.47 WIB./dok. Badan Geologi ESDM
Pengamatan visual Gunungapi Anak Krakatau melalui CCTV Pos Pasauran tanggal 7 September 2026 pukul 05.47 WIB./dok. Badan Geologi ESDM

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pasa saat berlangsungnya erupsi Gunung Anak Krakatau, nama Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin menjadi salah satu rujukan penting untuk membaca pergerakan material vulkanik di atmosfer.

VAAC Darwin merupakan pusat pemantauan abu vulkanik yang dioperasikan Australian Bureau of Meteorology (BOM). Pusat ini memiliki tugas memantau, menganalisis, dan memprakirakan pergerakan awan abu vulkanik di wilayah tanggung jawabnya, termasuk Indonesia.

Berdasarkan dokumen International Civil Aviation Organization (ICAO) yang dikutip Senin (7/9/2026), terdapat sembilan VAAC yang beroperasi di dunia dalam sistem International Airways Volcano Watch (IAVW). Kesembilan pusat tersebut berada di Anchorage, Buenos Aires, Darwin, London, Montreal, Tokyo, Toulouse, Washington, dan Wellington.


Sistem itu dibangun untuk memberikan informasi mengenai keberadaan, luas, ketinggian, pergerakan dan, mulai November 2025, prakiraan konsentrasi abu vulkanik kepada komunitas penerbangan. Informasi itu diterbitkan dalam bentuk Volcanic Ash Advisory (VAA) dan Volcanic Ash Graphic (VAG).

Untuk Indonesia, pusat yang memiliki tanggung jawab adalah VAAC Darwin. Dokumen ICAO mengenai koordinasi Indonesia-Australia, menyebut wilayah tanggung jawab Darwin mencakup kawasan vulkanik aktif Indonesia, Papua Nugini, dan sebagian Filipina.