Minyak Premium
Hadi, yang mengacu pada parameter SGS, berpendapat besaran API gravity minyak ESPO terbilang bagus, sebab masuk dalam kategori light crude. Kandungan sulfurnya terbilang tinggi sehingga dikategorikan sebagai minyak asam tinggi.
“Kilang kilang konvensional akan kesulitan mengolah jenis minyak ini. Namun, kilang modern seperti RDMP Balikpapan dan Balongan bisa menoleransi angka tersebut. Di samping itu, jika diperlukan, bisa dilakukan blending dengan sweet crude, kandungan sulfur kurang dari 0,5%,” kata Hadi ketika dihubungi, Rabu (22/7/2026).
Hadi, yang juga Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC), menegaskan hampir seluruh kilang PT Pertamina (Persero) memiliki kemampuan untuk mengolah minyak mentah ESPO yang telah dicampur dengan minyak berkarakteristik sweet crude.
Sementara itu, jika tidak dicampur, dia menilai hanya kilang-kilang yang telah dilakukan peremajaan seperti Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan dan Kilang Balongan yang dapat mengolah minyak ESPO secara langsung.
“Kilang-kilang Pertamina punya kapabilitas untuk itu. Hanya pengaturan logistik transport saja yang memang harus disesuaikan,” tegas dia.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi Indonesia sudah memulai impor minyak mentah Rusia tahap pertama dengan harga yang diklaim lebih 'baik' dibandingkan dengan acuan Brent.
Bahlil menegaskan pelaksanaan impor minyak Rusia tahap awal ini dilakukan secara langsung di bawah koordinasi pemerintah melalui Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas).
"Tahap pertama sudah, dilakukan oleh Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan diperintahkan lewat Lemigas," ujar Bahlil saat ditemui awak media usai agenda Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026, Selasa (21/7/2026).
"Jangan tanya harga lah, yang jelas lebih baik," tuturnya singkat.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung dalam kesempatan berbeda menyatakan impor minyak mentah Rusia yang dilakukan Lemigas bakal disimpan pada tangki penyimpanan untuk dijadikan cadangan penyangga energi (CPE).
Yuliot menyatakan bakal mengecek terlebih dahulu volume impor yang dilakukan Lemigas, termasuk apakah benar bakal menuju Balikpapan atau lokasi lainnya.
Kendati begitu, dia menegaskan Lemigas yang mengeksekusi impor minyak mentah dari Rusia dan bakal dijadikan CPE dan dilakukan pencampuran atau blending.
“Untuk pengadaan minyak itu kan ada Indonesia Blend. Indonesia Blend itu kan minyak itu kan melalui supplier yang ada. Jadi supplier yang ada yang kita terima dalam negeri adalah dalam bentuk blending, Nusantara Blending,” kata Yuliot kepada awak media, di Kompleks DPR, Kamis (16/7/2026).
Kendati begitu, dia belum dapat mengungkapkan lokasi storage minyak mentah yang bakal digunakan untuk menyimpan minyak impor dari Rusia.
“Itu menjadi cadangan penyangga energi nasional,” tegas dia.
Dilaporkan Bloomberg Technoz sebelumnya, minyak mentah asal Rusia jenis ESPO terdeteksi telah memasuki Indonesia melalui Pelabuhan Lawe-Lawe usai diangkut melalui kapal tanker Sierra berbendera Kamerun.
Berdasarkan data Big Trade Data, sebanyak 770.000 barel minyak telah dikirim ke pelabuhan di Kalimantan Timur tersebut pada 29 Juni 2026, dengan nilai sekitar US$75 juta.
Untuk diketahui, Pelabuhan Lawe-Lawe merupakan salah satu pintu masuk crude ke Kilang Balikpapan. PT Pertamina Patra Niaga (PPN) tercatat memiliki dua tangki penyimpanan minyak mentah di terminal Lawe-Lawe dengan kapasitas masing-masing 1 juta barel.
Selain itu, PPN juga memiliki fasilitas single point mooring (SPM) dengan kapasitas 320.000 dead weight ton (dwt). Fasilitas SPM tersebut tersambung dengan pipa ke pelabuhan Lawe-Lawe dan dari pelabuhan tersebut menuju Kilang Balikpapan.
Berdasarkan pantauan data pelayaran Marine Traffic, tanker Sierra telah meninggalkan Lawe-Lawe pada 30 Juni 2026. Saat ini tanker tersebut sudah berada kembali ke area labuh jangkar di Pelabuhan Vladivostok, Rusia.
Kapal pengangkut minyak mentah tersebut tercatat terkena sanksi oleh sejumlah negara, antara lain, di antaranya: Inggris, Uni Eropa (UE), Kanada, Australia, Ukraina, hingga Selandia Baru.
Adapun, Pertamina mengendalikan bisnis penyulingan minyak lewat subholding hilir PT Pertamina Patra Niaga (PPN). Saat ini, Pertamina mengoperasikan enam kilang dengan kapasitas pengolahan mencapai 1 juta barel per hari.
Sejumlah kilang itu termasuk refinery unit (RU) II Dumai dengan kapasitas 170.000 bph, RU III Plaju berkapasitas 126.000 bph, RU IV Cilacap berkapasitas 348.000 bph, RU V Balikpapan berkapasitas 360.000 bph, RU VI Balongan berkapasitas 150.000 bph, dan RU VII Kasim berkapasitas 10.000 bph.
(wdh)
































