Logo Bloomberg Technoz

Di pasar lokal, harga CPO saat ini juga menguat menuju level Rp15.000—Rp16.500/kg, merefleksikan kenaikan sekitar 10%—15% dibandingkan dengan rata-rata harga 2025. 

Di sisi lain, secara year to date (ytd), harga CPO menunjukkan pola pergerakan konsolidasi yang cenderung naik (bullish).

Pada awal tahun, harga CPO kembali melesat hingga menembus level RM4.600 (setara dengan US$1.123) per metrik ton.

“Dorongan utama di balik penguatan harga ini adalah implementasi mandatori B50 dari Pemerintah Indonesia. Program ini diperkirakan menyerap 16—18 juta kiloliter [kl] CPO domestik sepanjang tahun ini atau sekitar 35% dari total produksi CPO nasional,” terang Wahyu.

Tekan Ekspor

Meski begitu, penyerapan besar-besaran untuk kebutuhan energi dalam negeri ini secara langsung mengurangi porsi CPO yang dialokasikan untuk pasar ekspor.

Wahyu menambahkan, berdasarkan data dari Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), di tengah produksi yang melandai dan konsumsi domestik yang meningkat akibat B50, ekspor produk sawit Indonesia pada kuartal III-2026 diproyeksikan mengalami penurunan signifikan. 

“Total ekspor produk sawit nasional pada kuartal ketiga tahun ini diprediksi hanya mencapai sekitar 4,3 juta ton, turun hampir separuh dibandingkan dengan 8,3 juta ton pada periode yang sama tahun lalu,” ungkap Wahyu.  

Menurutnya, penurunan ekspor lebih tepat dipahami sebagai konsekuensi dari semakin terbatasnya ruang pasok akibat meningkatnya serapan domestik, bukan semata-mata karena melemahnya permintaan global.

"Produksi yang stagnan dan konsumsi domestik yang meningkat akibat B50 membuat ruang ekspor menjadi makin sempit," tambahnya. 

Dengan produksi sawit nasional yang cenderung stagnan, defisit pasokan di pasar internasional menjadi tak terhindarkan, sehingga menjadi penopang utama (floor price) bagi kenaikan harga CPO dan tandan buah segar (TBS) di tingkat petani.

Wahyu juga menambahkan, di satu sisi, tingginya harga CPO global akan mendatangkan windfall profit berupa lonjakan devisa dan penerimaan pajak dengan catatan volume ekspor CPO dan turunanya dapat masuk dalam kategori stabil atau lebih baik, meningkat. 

Pertumbuhan produksi CPO Indonesia untuk menopang program biodiesel./dok. BMI

Disparitas Solar

Adapun, harga CPO yang tinggi dibandingkan dengan harga solar fosil memperlebar selisih harga yang harus disubsidi oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). 

Dalam catatan TraderIndo, harga pasar global CPO saat ini berada pada US$1.000—US$1.150/metrik ton atau setara dengan RM4.000—RM4.500 per ton.

Sementara itu, solar fosil atau diesel berada pada angka US$700—US$900/metrik ton, meskipun akan kembali berfluktuasi mengikuti harga minyak mentah dunia.

“Untuk menutup insentif tersebut, akan sangat bergantung pada tarif Pungutan Ekspor (PE) CPO. Kalau pungutannya besar, ini pada akhirnya bisa memotong margin keuntungan eksportir dan harga efektif di tingkat petani,” jelasnya.

Sebelumnya, pada Senin (20/7/2026) harga minyak sawit naik ke level tertinggi dalam hampir satu bulan, mengikuti penguatan kembali harga minyak mentah dan minyak nabati lainnya karena AS dan Iran saling melancarkan serangan militer yang meningkat.

Kontrak berjangka di Kuala Lumpur naik 0,9% menjadi sekitar RM4.635 per ton, tertinggi sejak 23 Juni.

Hal itu terjadi setelah harga minyak mentah Brent melonjak karena AS dan Iran meningkatkan permusuhan.

Serangan bolak-balik selama seminggu telah meluas melampaui target militer semata hingga mencakup jembatan, utilitas, dan fasilitas pelabuhan, menunjukkan sedikit prospek kembalinya gencatan senjata yang 'rapuh' ditandatangani bulan lalu.

Kenaikan harga minyak sawit didukung oleh "kebangkitan kembali harga minyak mentah dan premi risiko perang menyusul situasi yang meningkat di Timur Tengah," kata Sathia Varqa, analis senior di Fast Markets Palm Oil Analytics.

Kontrak berjangka minyak nabati di bursa Chicago dan Dalian juga diperdagangkan jauh lebih tinggi, yang pada gilirannya mendorong harga minyak sawit, tambahnya.

Anil Kumar Bagani, kepala riset di Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, menyebut harga kemungkinan akan dibatasi oleh persediaan minyak sawit yang relatif tinggi di dua produsen terbesar dunia, Indonesia dan Malaysia.

Adapun, Indonesia tercatat menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan program mandatori B50, yaitu campuran 50% solar dengan 50% bahan bakar nabati berbasis minyak kelapa sawit (biodiesel).

Pada paruh pertama 2026, Indonesia masih meneruskan mandatori B40 kemudian pada paruh kedua 2026 tepatnya 1 Juli 2026, mandatori B50 resmi berlaku.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, kapasitas CPO untuk B40 dan transisi B50 sepanjang 2026 awalnya diproyeksikan mencapai 16—18 juta kl dengan membuka peluang revisi kuota secara berkala. Adapun, alokasi B50 sepanjang 2027 masih menunggu Keputusan Menteri (Kepmen) terkait dengan alokasi B50 tahun depan.

Diberitakan sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyampaikan pemerintah akan mengevaluasi kesiapan produksi dan distribusi secara rutin dalam kurun waktu enam bulan ke depan.

"Kalau volume 16 [juta kl] kan aku sudah bilang sampai 18-an [juta kl] ya. Nanti kita dalam 6 bulan ini, saya akan kumpulkan lagi," ujar Eniya saat ditemui usai agenda Pekan Riset Sawit Indonesia di Jakarta, Senin (20/7/2026).

Eniya menjelaskan skema penetapan kuota yang dinamis ini bertujuan untuk menyesuaikan kapasitas produksi badan usaha dengan kebutuhan nasional.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang hanya mengubah titik serah atau sumber distribusi, skema baru ini memungkinkan penyesuaian pada akumulasi total volume tahunan.

"Produksinya bisa bertambah disesuaikan dengan kebutuhannya. Jadi bisa ada revisi empat kali," kata Eniya.

(smr/wdh)

No more pages