Pendapatan juga tumbuh 12% menjadi Rp29,32 triliun, didorong kenaikan harga jual rata-rata emas dan bijih nikel.
Kondisi tersebut mendorong laba kotor meningkat 54% menjadi Rp5,62 triliun dan laba operasi naik 67% menjadi Rp4,5 triliun.
Analis Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie menyebut bahwa perbaikan kinerja ANTM tidak hanya didorong kenaikan harga komoditas, tetapi juga efisiensi operasional yang memperluas margin perusahaan.
"Kenaikan harga emas dan bijih nikel, yang didukung efisiensi operasional, berhasil mendorong ekspansi margin ANTM. Pertumbuhan pendapatan juga terjadi di hampir seluruh segmen usaha, dengan emas tetap menjadi kontributor terbesar," kata Adrian dalam risetnya pada Selasa (21/7/2026).
Adrian juga melihat prospek ANTM masih didukung target operasional yang berjalan sesuai rencana. Perseroan menargetkan produksi sekitar 45 ton emas dan 18 juta wet metric ton (wmt) bijih nikel sepanjang tahun ini.
Selain itu, strategi menyeimbangkan pasokan emas impor dan domestik menjadi komposisi 50:50 diharapkan dapat meningkatkan profitabilitas segmen emas.
Adapun, pertumbuhan ANTM diperkirakan masih ditopang ekspansi margin dan target operasional 2026 yang berjalan sesuai rencana.
Strategi tersebut diharapkan meningkatkan profitabilitas segmen emas, sementara margin bisnis nikel diproyeksikan terus membaik.
Lebih lanjut, Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ANTM dengan target harga Rp4.100 per saham.
Target harga itu diturunkan dari sebelumnya Rp4.800 untuk mengakomodasi kondisi pasar yang kurang kondusif, namun masih menawarkan potensi kenaikan sekitar 34,87% dari harga penutupan Rp3.040 saat riset diterbitkan.
Penilaian tersebut menggunakan valuasi price to earnings ratio (PER) 11 kali terhadap proyeksi laba bersih ANTM 2026 sebesar Rp8,94 triliun.
"Namun, investor tetap perlu mencermati risiko gangguan pasokan, kenaikan biaya bahan bakar, serta volatilitas harga emas global," imbuh Adrian.
(cpa/naw)































