Konflik Timur Tengah Makin Memanas, Harga Minyak Masih Tinggi
News
21 July 2026 06:40

Kanoko Matsuyama dan Gabriel Levin - Bloomberg News
Bloomberg, Harga minyak mempertahankan tren kenaikan dua hari berturut-turut seiring masih berlanjutnya eskalasi militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Timur Tengah, ditambah ancaman kelompok Houthi asal Yaman yang ingin memblokade lalu lintas pelayaran Arab Saudi di Laut Merah.
Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September, yang kini menjadi kontrak paling aktif diperdagangkan, berada di kisaran US$82 per barel setelah melonjak lebih dari 5% dalam dua sesi sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah Brent ditutup di atas US$89 per barel pada Senin (20/7). Amerika Serikat memulai hari ke-10 berturut-turut serangan militernya setelah Donald Trump berjanji Iran "akan membayar" atas tewasnya prajurit AS. Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal dan pesawat nirawak ke wilayah Kuwait.
Pada hari Senin, kelompok Houthi yang disokong Iran menegaskan bakal menerapkan larangan terhadap lalu lintas kapal laut dari Arab Saudi. Langkah ini mengancam rute pelayaran Laut Merah yang selama ini diandalkan Saudi untuk mengekspor jutaan barel minyak mentah per hari melalui jaringan pipa lintas negara guna menghindari Selat Hormuz.
“Jika terjadi gangguan pada infrastruktur, khususnya pada jalur pelayaran utama, hal itu dapat memicu lonjakan tajam pada harga minyak,” ujar Rob Thummel, Manajer Portofolio Senior di Tortoise Capital LLC, menanggapi ancaman Houthi tersebut. “Stok cadangan minyak saat ini telah menyusut, sehingga tidak ada ruang toleransi untuk kesalahan sedikit pun.”































