Peristiwa itu menjadi hari paling mematikan bagi pasukan AS sejak hari-hari awal perang yang dimulai pada 28 Februari. Dengan demikian, jumlah korban tewas dari pihak AS kini mencapai 16 orang.
Teheran pada Sabtu mengumumkan tidak lagi akan mematuhi ketentuan dalam perjanjian damai sementara, seiring Iran melancarkan serangan besar-besaran terhadap negara-negara Teluk sebagai balasan atas serangan terbaru AS.
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, memperingatkan akan memberikan "pelajaran yang tak terlupakan" kepada Amerika Serikat.
Dalam pernyataan tertulis yang dipublikasikan pada Sabtu, ia mengatakan pelanggaran AS terhadap nota kesepahaman—yang mengatur gencatan senjata selama 60 hari sementara kedua negara berunding mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz dan pembatasan program nuklir Iran—"sekali lagi membuktikan kepada semua orang betapa tidak bernilai dan tidak sahnya tanda tangan presiden Amerika Serikat."
Khamenei sendiri masih belum muncul di hadapan publik sejak serangan AS menewaskan ayahnya, sejumlah anggota keluarganya, serta menyebabkan dirinya mengalami luka parah.
Sepekan saling balas serangan antara kedua pihak kini telah meluas dari sasaran militer semata menjadi mencakup jembatan, fasilitas utilitas, dan pelabuhan, menunjukkan kecilnya peluang untuk kembali ke gencatan senjata yang rapuh yang ditandatangani bulan lalu.
Menurut pejabat Iran, AS telah menyerang fasilitas desalinasi air, jembatan, dan lebih dari 100 menara telekomunikasi sipil. Mereka juga menyatakan sedikitnya 50 orang tewas dan lebih dari 500 lainnya terluka akibat serangan AS sejak 27 Juni.
US Central Command tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Kuwait Airways menjadwal ulang sebagian besar penerbangannya, sementara Kementerian Listrik dan Air Kuwait menyatakan upaya pemadaman kebakaran sedang berlangsung di sebuah pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi yang terkena serangan Iran.
Kementerian Luar Negeri Kuwait mengecam serangan tersebut dan menyatakan bahwa serangan berulang terhadap infrastruktur vital "mencerminkan pola agresi sistematis yang menyasar aset sipil, sehingga membahayakan keselamatan dan jiwa warga sipil," yang dinilai sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.
Iran juga menyerang radar dan pesawat militer AS di Qatar, salah satu mediator utama antara Washington dan Teheran, menurut kantor berita Tasnim.
Sebelumnya, US Central Command menyatakan gelombang serangan malam ketujuh terhadap Republik Islam Iran berakhir pada pukul 21.30 waktu New York pada Jumat, setelah pasukannya menghantam lokasi pengawasan, infrastruktur logistik militer, gudang senjata bawah tanah, serta kemampuan maritim Iran.
Meski demikian, eskalasi tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan puncak perang pada Maret hingga awal April, ketika AS dan Israel membombardir kota-kota Iran secara besar-besaran, sementara Teheran meluncurkan ribuan drone dan rudal ke negara-negara Arab Teluk serta Israel.
Dalam pernyataannya, Khamenei juga menyerukan persatuan antara masyarakat dan pemerintah, yang tampaknya merujuk pada meningkatnya kritik dari kelompok garis keras terhadap keputusan pemerintah untuk menempuh jalur diplomasi.
"Kritik terhadap kinerja para pejabat tidak boleh berujung pada ketidakadilan terhadap pihak yang tidak bersalah maupun merusak persatuan sosial," ujarnya.
Harga minyak mentah Brent melonjak pada Jumat, naik sekitar 4,6% dan ditutup di kisaran US$88 per barel, mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak April. Kenaikan tersebut terjadi setelah Axios melaporkan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump telah memberi tahu Israel mengenai rencana pengiriman tambahan pesawat pengisian bahan bakar di udara, yang dipandang sebagai sinyal kemungkinan perluasan operasi militer AS.
Seorang pejabat militer Israel pada Sabtu mengonfirmasi rencana penambahan armada pesawat AS yang berbasis di Israel.
Kedutaan Besar AS di Yerusalem mengimbau warga Amerika untuk mempertimbangkan kembali perjalanan menuju atau melalui Timur Tengah mengingat potensi "eskalasi yang tidak terduga." Kedutaan juga menyarankan agar para pelancong memastikan kembali jadwal penerbangan dengan maskapai masing-masing apabila tetap memutuskan bepergian.
Dalam pidato kepada rakyat pada Kamis malam, Presiden AS Donald Trump kembali menggambarkan situasi di Timur Tengah sebagai sebuah keberhasilan. Menurutnya, AS "sedang meraih kemenangan besar di Iran, dan hasilnya akan segera terlihat dalam waktu yang sangat singkat," sebelum kemudian mengalihkan pembahasan ke isu-isu domestik.
Selama tiga pekan pertama konflik, sebanyak 13 personel militer AS tewas dalam sedikitnya tiga serangan terpisah. Pada awal Juli, seorang pilot Angkatan Laut AS juga meninggal dunia akibat kecelakaan helikopter di Laut Arab.
China dan Pakistan menyampaikan keprihatinan atas perkembangan tersebut serta menyerukan agar AS dan Iran menghentikan permusuhan dan kembali melanjutkan dialog.
Selain meningkatkan intensitas pemboman terhadap Iran, AS juga kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan mencabut pengecualian sanksi atas ekspor minyak negara tersebut.
Dengan Iran yang terus melakukan serangan maritim dan bersikeras agar seluruh kapal memperoleh izin Teheran sebelum melintasi Selat Hormuz, peluang kedua pihak untuk terus meningkatkan eskalasi masih sangat besar, menurut Mehran Kamrava, profesor ilmu politik di kampus Qatar milik Georgetown University.
"Serangan-serangan ini merupakan pertanda buruk bahwa situasi yang lebih parah masih akan terjadi," kata Kamrava kepada Bloomberg TV pada Jumat dari Doha.
"Tidak ada pihak yang benar-benar menginginkan eskalasi ini, tetapi keduanya kini terjebak dalam siklus eskalasi yang sulit dihentikan. Aksi saling balas ini kini menjadi sangat berbahaya karena melibatkan serangan dan serangan balasan terhadap infrastruktur yang sangat vital."
(bbn)




























