"Masa Indonesia enggak bisa? Indonesia bisa kan? Bisa? Bisa!" Tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, bahkan ia sesumbar terkait pencapaian yang telah diraih Indonesia salah satunya menjadi negara pertama di dunia yang menghasilkan B50, bahan bakar campuran nabati berbasis minyak sawit dan solar.
"Jadi dari mulai bulan Juli ini kita tidak impor solar lagi dari luar negeri, Saudara-saudara. Lebih baik uang itu beredar di Indonesia, dinikmati oleh petani-petani sawit di seluruh Indonesia," terangnya.
Jauh sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia juga telah mendorong mandatori bensin dengan campuran etanol 20% pada 2028.
Bahlil berharap program E20 itu bakal ikut berkontribusi signifikan untuk mengurangi porsi impor bensin nantinya.
“Kita akan dorong namanya etanol E20 2028, dengan demikian akan mengurangi impor,” kata Bahlil dalam panel Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Di sisi lain, Bahlil menambahkan, kementeriannya turut mendorong penghentian impor bensin nantinya. Penghentian impor BBM jenis bensin itu akan menyasar pada produk dengan nilai oktan atau RON 92, RON 95, dan RON 98.
Rencanannya, penghentian impor bensin itu dilakukan pada akhir 2027 mendatang. Adapun, bensin RON 90 yakni BBM bersubsidi Pertalite bakal tetap diimpor.
Bahlil menyatakan keputusan terkait dengan penyetopan impor sejumlah jenis BBM tersebut akan diambil oleh Kementerian ESDM pada akhir 2027.
“Kita akan dorong, terakhir nanti kita tinggal impor crude-nya saja, barang-barang jadinya semua ada di dalam negeri, termasuk avtur,” kata Bahlil.
“Avtur kita akan dorong 2026 itu kita tidak lagi melakukan impor,” tuturnya.
(prc)






























