China merupakan pasar semikonduktor terbesar di dunia, dan hingga tahun 2022, pasar ini menyumbang seperempat dari pendapatan Nvidia. Sejak saat itu, pembatasan ekspor AS yang semakin ketat telah menyebabkan penjualan produsen chip tersebut di Tiongkok turun di bawah 10%, yang sebagian besar berasal dari chip grafis PC.
Nvidia telah berulang kali menyampaikan kepada para investor bahwa mereka tidak mengharapkan adanya pendapatan tambahan dari prosesor AI di pasar Chinadalam waktu dekat, bahkan setelah Trump memberikan lampu hijau untuk penjualan H200.
Pada Januari, Departemen Perdagangan AS mengeluarkan peraturan yang meresmikan keputusan Trump terkait H200, yang membatasi penjualan hanya kepada pembeli China yang terverifikasi dan menetapkan bea masuk AS sebesar 25% untuk setiap pengiriman.
Aturan tersebut mewajibkan perusahaan yang mengajukan izin ekspor AS untuk chip tersebut dan memastikan bahwa teknologi tersebut tidak akan digunakan untuk tujuan militer China atau penggunaan senjata nuklir, rudal, kimia, atau biologi.
Kessler mengatakan bahwa setiap pemohon lisensi H200 “harus memenuhi persyaratan keamanan nasional yang ketat, termasuk memastikan bahwa chip tersebut benar-benar berfungsi sesuai dengan tingkat yang seharusnya, bukan lebih tinggi.”
Meskipun AS telah memberikan persetujuan atas pengiriman H200 ke China, pihak berwenang di Beijing telah memperlambat pembelian chip tersebut oleh perusahaan-perusahaan lokal. Hal ini sebagian disebabkan oleh kekhawatiran para pejabat China bahwa membanjirnya chip AI rancangan AS akan menghambat tujuan jangka panjang pemerintah untuk mengembangkan industri chip dalam negeri.
Juru bicara Nvidia belum segera menanggapi permintaan komentar.
(bbn)

































