Kondisi di Timur Tengah jadi penyebab koreksi harga emas. Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terlibat jual-beli serangan.
Bloomberg News memberitakan, Pusat Komando AS menyebut akan terus melakukan blokade atas jalur pelayaran di seluruh pelabuhan Iran. Presiden AS Donald Trump juga memberi pengumuman soal Selat Hormuz yang sepertinya bakal menyulut konflik.
“AS akan, sejak saat ini, dikenal sebagai PENJAGA SELAT HORMUZ. Namun demi KEADILAN, akan dibayar 20% dari nilai kargo yang dikirimkan. Ini adalah biaya yang diperlukan untuk menyediakan keamanan,” cuit Trump di media sosial.
Perkembangan ini membuat harga minyak dunia kembali melambung. Kemarin, harga minyak jenis brent ditutup meroket 10,72% ke US$ 84,17/barel.
Saat dunia dibayangi risiko inflasi tinggi akibat kenaikan harga energi, maka bank sentral di berbagai negara sulit untuk tidak mengetatkan kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga acuan. Salah satunya adalah bank sentral paling berpengaruh di dunia, Federal Reserve dari AS.
Mengutip CMEFedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga acuan di Negeri Paman Sam sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4% dalam rapat September adalah 51,3%. Sepekan lalu, kemungkinannya masih 46,2%.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.
(aji)































