Logo Bloomberg Technoz

Yusuf menegaskan kondisi tersebut juga didukung oleh bantalan stok yang masih tersedia di pasar minyak global. Dia mencatat produksi OPEC+, terutama dari Uni Emirat Arab, meningkat dan sebagian negara Teluk juga mampu mengalihkan jalur ekspornya. 

“Artinya, pasokan global memang lebih ketat, tetapi belum berada pada kondisi kekurangan yang ekstrem,” tegasnya.

Yusuf menilai harga minyak mentah dunia memang bakal mengalami kenaikan gegara kembali memanasnya hubungan dua negara tersebut, tetapi kenaikan diprediksi dalam level yang terukur.

“Selama konflik tidak meluas dan jalur diplomasi masih terbuka, saya memperkirakan Brent akan bergerak di kisaran pertengahan US$70 hingga sekitar US$80 per barel. Namun, risikonya tetap condong ke atas karena gangguan terhadap pasokan dapat dengan cepat mendorong harga lebih tinggi, terutama pada produk olahan,” ungkap Yusuf.

Saling serang udara selama dua hari serta pemberlakuan kembali sanksi minyak oleh Amerika Serikat membuat gencatan senjata yang dicapai Presiden Donald Trump dengan Iran bulan lalu berada dalam kondisi yang tidak menentu.

Pada tahap awal, nota kesepahaman yang mulai berlaku pada 18 Juni itu dirancang untuk mengakhiri seluruh permusuhan, memberikan keringanan sanksi bagi Iran, serta membuka kembali Selat Hormuz.

Pemulihan pasokan minyak Timur Tengah berisiko terhambat jika ketegangan yang kembali memanas mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, demikian menurut Goldman Sachs Group Inc.

Produksi minyak mentah di Teluk Persia pada Juni masih sekitar 10,5 juta barel per hari di bawah level sebelum perang, menurut perkiraan Goldman.

“Meski produsen Timur Tengah telah mulai membuka kembali sumur-sumur mereka yang ditutup selama bulan lalu, gangguan di Selat Hormuz dapat memperlambat pemulihan produksi,” kata para analis termasuk Yulia Zhetkova Grigsby dalam catatan tanggal 8 Juli.

Lalu lintas kapal melalui selat tersebut nyaris terhenti setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan untuk hari kedua, menguji kesepakatan damai yang rapuh, yang muncul setelah serangkaian serangan terhadap kapal di perairan tersebut.

Iran menyatakan Selat Hormuz ditutup "hingga pemberitahuan lebih lanjut". Namun, pernyataan tersebut dibantah Komando Pusat AS (US Central Command/CENTCOM), yang menyatakan pasukannya kembali melancarkan serangan untuk memastikan kebebasan navigasi di jalur pelayaran strategis tersebut.

Minyak Brent naik menembus US$78 per barel setelah menguat 5,4% sepanjang pekan lalu. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan mendekati US$74 per barel, sedangkan harga gas alam Eropa sempat naik hingga 2,6%.

Adapun, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman September naik 3,4% menjadi US$78,59 per barel pada pukul 06.02 waktu Singapura. Sementara WTI untuk pengiriman Agustus menguat 3,4% menjadi US$73,87 per barel.

(azr/ros)

No more pages