Dia memprediksi harga minyak mentah bakal naik ke level US$80 per barel, jika ketegangan dan penutupan total Selat Hormuz masih terjadi dalam satu hingga dua pekan mendatang.
“Nah, jadi sangat mungkin menurut saya akan bisa naik ke level 80-an dolar per barel gitu ya, apa jika dalam waktu seminggu atau dua minggu ini tidak mereda ya, terus berkelanjutan gitu,” ungkapnya.
Sekadar catatan, harga minyak melonjak setelah AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan di tengah pernyataan yang saling bertentangan mengenai status Selat Hormuz.
Minyak Brent naik menembus US$78 per barel setelah menguat 5,4% sepanjang pekan lalu. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan mendekati US$74 per barel, sedangkan harga gas alam Eropa sempat naik hingga 2,6%.
Adapun, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman September naik 3,4% menjadi US$78,59 per barel pada pukul 06.02 waktu Singapura. Sementara WTI untuk pengiriman Agustus menguat 3,4% menjadi US$73,87 per barel.
Iran menyatakan Selat Hormuz ditutup "hingga pemberitahuan lebih lanjut". Namun, pernyataan tersebut dibantah Komando Pusat AS (US Central Command/CENTCOM), yang menyatakan pasukannya kembali melancarkan serangan untuk memastikan kebebasan navigasi di jalur pelayaran strategis tersebut.
Ketidakpastian ini kembali memunculkan war premium pada harga minyak mentah. Sebelumnya, harga sempat menghapus kenaikan setelah tercapainya kesepakatan damai, sementara antara kedua negara yang membuka peluang peningkatan pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia.
Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) pada Jumat memperingatkan eskalasi terbaru berisiko menggagalkan upaya pemulihan stok minyak global yang telah menipis pada paruh kedua tahun ini. Kondisi tersebut menjadi pengingat besarnya dampak konflik terhadap perekonomian dunia apabila terus berlanjut.
Hampir tidak ada lalu lintas kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Minggu (12/7/2026). Jalur tersebut biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Hanya dua kapal tanker pengangkut produk minyak yang terpantau mendekati titik sempit jalur pelayaran tersebut.
Meski demikian, Joint Maritime Information Center menyatakan jalur pelayaran di sisi selatan yang dikoordinasikan Oman masih dapat digunakan.
Goldman memperkirakan arus minyak melalui Teluk Persia telah kembali menurun mendekati 70% dari tingkat normal setelah serangan terbaru terhadap kapal tanker, setelah sebelumnya pulih hingga lebih dari 80% dari arus sebelum perang dalam 10 hari pertama setelah pembukaan kembali Selat Hormuz.
Bulan lalu, Goldman Sachs termasuk di antara bank-bank yang menurunkan proyeksi harga minyak seiring meningkatnya arus pengiriman melalui Selat Hormuz. Para analisnya juga telah memperingatkan potensi kembalinya kelebihan pasokan minyak mentah.
(azr/ros)


























