Logo Bloomberg Technoz

Menurut Bisman, kesenjangan harga yang mencapai hampir empat kali lipat tersebut sangat rawan memicu penyalahgunaan atau penyelewengan alokasi solar bersubsidi di lapangan.

Untuk itu, kehadiran B50 diharapkan mampu menjadi jalan tengah yang kompetitif bagi konsumen tanpa harus menguras ruang fiskal pemerintah secara berlebihan.

"Harus jauh di bawah Pertadex. Kenapa? Karena persepsi orang terhadap B50 itu juga mungkin masih ada keraguan. Kalau harga Biosolar B50 dapat bersaing, maka tentunya masyarakat akan lebih memilih menggunakan B50 untuk kendaraannya," tutur Bisman.

Melalui penetapan harga yang strategis, Pushep optimistis transisi energi menuju implementasi B50 dapat berjalan mulus karena masyarakat mendapatkan insentif ekonomi yang menarik untuk beralih ke bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membeberkan formulasi perhitungan harga untuk implementasi kebijakan mandatori B50.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiyani Dewi menjelaskan formulasi harga B50 sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perhitungan varian biosolar yang sudah beredar sebelumnya di masyarakat.

Eniya juga mengatakan masyarakat sebenarnya bisa memperkirakan sendiri harga B50 dengan memantau Harga Indeks Pasar (HIP) bahan bakar nabati yang dirilis kementerian setiap bulan.

"Kalau B50 kira-kira [harganya] tinggal menghitung persentasenya saja. Sama seperti biosolar kemarin. Menghitungnya kan 50% saja, dikalikan 50%-nya," ujar Eniya saat ditemui awak media di kantor Kementerian ESDM, Senin (6/7/2026).

Eniya kemudian memberikan gambaran kasar mengenai perhitungan tersebut menggunakan acuan HIP periode Juli 2026. Saat ini, HIP untuk biodiesel adalah sekitar Rp14.000/liter.

"Nah, biodiesel Rp14.000/liter, tepatnya Rp14.562. Berarti kalau 50%, ya taruhlah Rp7.000-an per liter. Rp7.000 sekian ditambah harga solar. Begitu saja menghitungnya," paparnya.

Lebih lanjut, Eniya menjelaskan mengenai jenis BBM solar yang akan menggunakan pencampuran B50 ini.

Dia memastikan program pencampuran ini menyasar biosolar subsidi dan Dexlite, tetapi tidak berlaku untuk varian Pertamina Dex (Pertadex).

"Biosolar subsidi, Dexlite," tegasnya.

Adapun, dengan formulasi ini, harga akhir B50 di pompa bensin nantinya akan sangat bergantung pada pergerakan HIP solar murni dunia yang dikombinasikan dengan setengah dari harga indeks pasar biodiesel domestik.

Sebagai informasi, Kementerian ESDM menetapkan HIP Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis biodiesel pada Juli 2026 sebesar Rp14.562/liter. Nilai itu turun Rp81 dibandingkan dengan harga acuan biodiesel pada Juni yang dipatok Rp14.643/liter.

Ditjen EBTKE Kementerian ESDM menyebut penetapan HIP tersebut berlaku untuk periode Juli 2026. Adapun, HIP biodiesel menjadi salah satu komponen dalam pelaksanaan program pencampuran biodiesel ke bahan bakar solar.

“Harga Indeks Pasar Bahan Bakar Nabati untuk biodiesel dan bioetanol pada Juli 2026 sudah resmi ditetapkan,” tulis Direktorat Jenderal EBTKE melalui situs jejaring resminya, Senin (6/7/2026).

Penetapan harga dihitung menggunakan rata-rata harga minyak sawit mentah atau CPO PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara periode 25 Mei hingga 24 Juni 2026 sebesar Rp15.217/kg.

Formula HIP biodiesel juga memasukkan nilai konversi bahan baku sebesar US$85/ton, faktor konversi 870 kilogram per meter kubik, rata-rata kurs tengah Bank Indonesia sebesar Rp17.895/dolar AS, serta ongkos angkut.

(smr/wdh)

No more pages