Hijau dan menguatnya IHSG merupakan efek langsung dari melesatnya sejumlah saham big caps potensial di pre–closing pasar.
Berikut diantaranya berdasarkan data Bloomberg, Jumat (10/7/2026).
- PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA) menopang 6,17 poin
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menopang 3,28 poin
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menambah 2,54 poin
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menambah 1,94 poin
- PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) menopang 1,8 poin
- PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGAS) menopang 1,56 poin
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menopang 1,46 poin
- PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menopang 1,46 poin
- PT United Tractors Tbk (UNTR) menopang 1,32 poin
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menopang 1,16 poin
Adapun saham–saham unggulan LQ45 turut menjadi pendorong penguatan IHSG, saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) melonjak 5,79% dan saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) juga melesat 2,47%. Sama halnya, saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) juga lompat hingga 2,29%.
Disusul oleh penguatan saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang menguat 1,96%, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) melesat 1,81%, dan saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) yang mencetak penguatan 1,77%.
Penguatan Nilai Tukar Rupiah
Dari dalam negeri, apresiasi rupiah menjadi sentimen amat positif bagi IHSG. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah berhasil menguat dan solid di hadapan dolar Amerika Serikat.
Pada tutup perdagangan di pasar spot, US$ 1 setara dengan Rp18.055. Rupiah menguat 0,16% point–to–point.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terus menguat hingga menutup perdagangan di level terkuatnya Rp18.055/US$ pada penutupan perdagangan, hingga memutus rantai pelemahan dua hari beruntun.
Penguatan rupiah hari ini juga menjadi yang terbesar dan paling potensial di ke–enam di Asia, menyusul baht Thailand yang menguat 0,39%, yen Jepang 0,35%, yuan offshore 0,24%, bersama yuan China 0,23%, hingga won Korea Selatan yang terapresiasi 0,19%.
Penguatan rupiah turut lebih unggul daripada ringgit Malaysia yang menguat 0,16%, peso Filipina yang juga menguat nilainya 0,16%, baru kemudian dollar Singapore 0,12%, dan rupee India 0,05%.
Rupiah dan valuta Asia nyaman di zona hijau terdorong sentimen dolar AS sedang melemah. Pada perdagangan siang hari ini, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan 6 mata uang utama dunia) melemah 0,1% di level 100,857, dengan itu rupiah dan mata uang Asia mampu menguat di tengah kelesuan dolar AS.
Dolar AS lesu di tengah harga minyak dunia yang cukup jinak, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di rentang US$71,82 per barel dengan penurunan 2,31% point–to–point per Jumat, sementara jenis Brent melemah 2,41% di harga US$76,14.
Penguatan nilai tukar rupiah dan mata uang regional Asia utamanya tersulut dengan katalis dan sentimen meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyebut, sentimen geopolitik mulai mereda di mana Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran ingin mencapai kesepakatan dengan AS. Pernyataan tersebut meningkatkan harapan bahwa konflik tidak akan berkembang menjadi perang yang lebih luas, sehingga mendorong para pelaku investor kembali masuk ke aset berisiko.
Harga minyak dunia yang mulai melandai berhasil membantu meredakan kekhawatiran terhadap inflasi dan potensi gangguan pasokan energi global, maka hal ini memberikan sentimen positif bagi stock market.
“Harapan de-eskalasi konflik AS-Iran ini bahkan sukses menurunkan indeks volatilitas global (VIX Index) sebesar 6,27% menjadi 15,84,” papar Mirae Asset Sekuritas dalam catatan terbarunya per hari ini.
Dengan demikian, harapan ini berpotensi menekan permintaan terhadap aset safe haven [DXY] dan mendukung aliran dana kembali ke aset berisiko, termasuk pasar negara berkembang seperti Indonesia.
(fad)





























