Di sisi lain, sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di dunia, Indonesia memiliki cadangan batu bara berkalori rendah yang melimpah.
Melalui hilirisasi dengan teknologi TRIG, batu bara berkualitas rendah tersebut dapat diolah menjadi gas sintetis bernilai tinggi untuk menyuplai kebutuhan industri domestik.
Dalam kesempatan yang sama, CEO PT Danantara Development Management Fund, Sigit P Santosa menegaskan bahwa kemitraan ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah dalam mewujudkan kemandirian energi nasional.
"Kemitraan ini mendukung strategi pemerintah Indonesia yang lebih luas dalam mewujudkan kemandirian energi melalui pemanfaatan batu bara berkalori rendah. Dengan memproduksi gas sintetis di dalam negeri, Indonesia berpeluang mengurangi ketergantungan pada impor sekaligus menciptakan peluang baru bagi pengembangan industri nasional," kata Sigit.
Dalam kerja sama ini, Latitude Energy tidak hanya memboyong modal investasi, tetapi juga dukungan manajemen serta keahlian teknis untuk membangun platform gasifikasi skala besar.
Latitude Energy membidik Indonesia sebagai pusat (hub) pengembangan teknologi ini di kawasan regional.
President & CEO Latitude Energy Holdings Inc, Jacob Thomas mengungkapkan komitmennya untuk menjadikan proyek di Indonesia ini sebagai batu loncatan di pasar Asia Tenggara.
"Dengan menggabungkan sumber daya domestik Indonesia yang melimpah dengan teknologi TRIG™️ milik Latitude, teknologi gasifikasi batu bara paling maju di dunia, kami berkomitmen menghadirkan teknologi unggulan Amerika Serikat ke Indonesia, mengembangkan kapasitas lokal, dan menciptakan nilai jangka panjang bagi industri hilir Indonesia," tegas Jacob.
Penandatanganan kerja sama ini dinilai mempertegas kepemimpinan teknologi sektor swasta AS sekaligus menjadi kontribusi nyata dalam mendukung masa depan industri dan pertumbuhan ekonomi di kawasan Indo-Pasifik.
Sebelumnya, Amerika Serikat (AS) juga pernah terlibat dalam proyek gasifikasi batu bara di Indonesia melalui Air Products, sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang penyediaan gas industri, bahan kimia, dan teknologi pada tahun 2022. Perbedaannya, proyek gasifikasi batu bara ini ditargetkan untuk menghasilkan dimethyl ether (DME).
Proyek ini awalnya direncanakan sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) pada era Presiden Joko Widodo untuk menekan impor liquefied petroleum gas (LPG) yang terus membengkak.
Saat itu, Presiden Joko Widodo memimpin langsung peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek senilai US$2,1 miliar 2 di Muara Enim, Sumatra Selatan. Namun, kemitraan strategis yang dijalin bersama dengan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Pertamina (Persero) tersebut resmi batal pada Maret 2023 setelah Air Products mengirimkan surat pengunduran diri.
Ada dua faktor utama yang melatarbelakangi pengunduran diri perusahaan asal AS tersebut.
Pertama berkaitan dengan peralihan fokus bisnis. Air Products memutuskan untuk mengalihkan investasi mereka ke sektor transisi energi yang lebih ramah lingkungan, khususnya pengembangan blue hydrogen (hidrogen biru) dan green hydrogen (hidrogen hijau).
Kedua, berkaitan dengan ketidakpastian nilai ekonomis proyek. Nilai ekonomis proyek DME dinilai kurang kompetitif jika dibandingkan dengan LPG impor yang disubsidi.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan adanya ketidakterbukaan terkait rincian struktur biaya pemrosesan (processing cost) dari Air Products yang mencapai sekitar US$585 per ton.
Oleh karena biaya pemrosesan tersebut tidak dapat ditekan, sementara harga jual produknya terbatas, formula bisnis ini menjadi tidak ekonomis bagi para mitra di Indonesia. Hal itu juga berdampak pada target harga batu bara input yang tertekan terlalu rendah.
(smr/ros)































