Logo Bloomberg Technoz

Menurutnya, banyak pelaku industri tambang yang pada awalnya enggan menggunakan B50 lantaran ketakutan harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan biodiesel generasi sebelumnya.

“Kita bicara terutama dengan [pelaku industri] pertambangan. Kalau kalian enggak pakai B50, RKAB saya tinjau. Jadi mereka sudah komitmen [untuk memakai B50],” tegas Bahlil.

Dia memastikan, berdasarkan uji coba B50 yang telah dilakukan terhadap berbagai sektor industri, campuran biodiesel 50% dengan solar fosil ini lebih aman digunakan oleh berbagai jenis kendaraan ketimbang B40.

Dia memastikan Kementerian ESDM telah menguji B50 terhadap sektor perkeretaapian, mobil penumpang, bus, dan kapal.

“Hasil tesnya ternyata kualitas B50 jauh lebih baik dari B40. Apa dasarnya? Kalau B40 filternya diganti pada [jarak tempuh] 10.000—20.000 km. Untuk B50 ada yang 40.000 km belum diganti filternya,” papar Bahlil.   

Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM Laode Sulaeman memastikan akan terdapat tahap transisi yang memperbolehkan B40 masih dipasarkan selama tiga bulan, meskipun implementasi B50 tetap diberlakukan per Juli 2026.

Dia menyatakan masa transisi tersebut ditetapkan agar seluruh pihak dapat melakukan penyesuaian peningkatan campuran fatty acid methyl ester (FAME) ke dalam solar dari 40% ke 50%.

“Jadi, artinya kan masih ada sisa-sisa B40 itu dihabiskan dahulu, diberi waktu sampai dengan tiga bulan jadi penyesuaiannya hingga menjadi 100% pemulihan ke B50,” kata Laode kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (26/6/2026).

Dia juga memastikan formula harga jual solar dengan campuran FAME 50% tetap serupa dengan B40.

“Iya, sama. Kan hitungannya kan diesel, kayak harga solar. Enggak ada jauh dekatnya, enggak ada. Sama dengan harga solar yang sudah ditetapkan tiap bulan,” ungkapnya.

(wdh)

No more pages