Logo Bloomberg Technoz

Ketua K3EPB UI Ali Ahmudi Achyak menyatakan kandungan fatty acid methyl ester (FAME) sebesar 50% dalan B50 memiliki karakteristik pelarut atau solvent, sehingga karet atau seal pada mesin kendaraan tua diprediksi cepat mengalami kerusakan.

Selain itu, Ali menyatakan campuran FAME sebesar 50% dalam B50 memiliki karakteristik higroskopis atau mudah menyerap air.

Dia menilai penyimpanan B50 pada tangki yang tidak mumpuni bakal membuat kadar airnya cukup tinggi.

Kondisi tersebut, lanjut Ali, berpotensi terjadi jika B50 digunakan oleh mobil dan alat berat keluaraan tua. Dia menilai performa mesin bakal turun, sebab kendaraan tersebut memang tak dirancang untuk menggunakan bahan bakar nabati (BBN).

Makanya kalau mobil-mobil tua, teknologi 70-an, 80-an, dia jangan 'minum' B50. Kenapa? Teknologinya memang tidak kompatibel. Pada masa itu, orang belum berpikir untuk memanfaatkan bioenergi,” kata Ali ketika dihubungi, Rabu (1/7/2026). 

Sementara itu, mobil dan alat berat keluaran baru diprediksi tidak bakal mengalami permasalahan ketika menggunakan B50. Ali meyakini pabrikan otomotif sudah menyesuaikan spesifikasi suku cadang untuk menggunakan BBN.

Terpisah, Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengungkapkan jika biodiesel B50 tak disimpan secara baik, kualitasnya bakal menurun dan sangat berdampak negatif bagi mesin.

Dia menjelaskan kondisi tersebut bisa menyebabkan terbentuknya sludge atau endapan yang menyumbat filter bahan bakar dan deposit di injektor akibat kontaminasi air serta kotoran.

Yannes mengungkapkan kondisi tersebut dapat membuat pembakaran menjadi tidak sempurna, tenaga mesin turun, konsumsi bahan bakar meningkat, dan dalam kondisi ekstrem bisa menyebabkan mesin mogok.

Tidak hanya itu, B50 dengan kualitas buruk memiliki sifat asam yang dapat teroksidasi sehingga mempercepat korosi pada komponen logam.

Lalu, sifat pelarut FAME juga bisa memengaruhi seal karet atau elastomer di sistem bahan bakar yang menyebabkan swelling hingga cracking.

“Mesin modern [common rail] biasanya lebih sensitif dibandingkan dengan mesin lama, meski dampak jangka panjang masih terus dievaluasi melalui uji coba saat ini,” kata Yannes.

(wdh)

No more pages