Di tingkat global, industri data center diperkirakan membutuhkan tambahan sekitar 300 ribu tenaga kerja hingga 2030. Sementara di Indonesia, kebutuhan SDM diperkirakan akan terus meningkat seiring pesatnya investasi data center yang didorong perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Mengacu pada target pemerintah mencetak 9 juta talenta digital sepanjang 2020-2035, Erick memperkirakan sedikitnya sekitar 6.000 tenaga kerja baru setiap tahun dibutuhkan apabila hanya 1% dari target tersebut dialokasikan untuk industri data center.
Namun, menurutnya, kapasitas Indonesia untuk memenuhi kebutuhan tersebut masih sangat terbatas.
"Sampai hari ini belum ada jurusan khusus data center. Selama ini industri mengambil lulusan teknik elektro, teknik mesin, maupun teknik informatika, tetapi jumlahnya masih sangat kecil," katanya.
Ia menilai tantangan terbesar industri saat ini bukan kurangnya lapangan pekerjaan, melainkan terbatasnya pasokan tenaga kerja dengan kompetensi yang sesuai.
Di sisi lain, minat generasi muda terhadap bidang engineering juga dinilai terus menurun. Banyak lulusan lebih memilih berkarier sebagai content creator, AI programmer, cloud engineer, maupun cybersecurity specialist.
Padahal, menurut Erick, seluruh layanan digital tersebut pada akhirnya tetap bergantung pada infrastruktur data center.
"Orang banyak bicara AI sebagai tools, cloud computing, atau cybersecurity. Padahal semuanya berjalan di atas data center. Cloud itu sebenarnya berada di data center," ujarnya.
Erick mengatakan kebutuhan SDM diperkirakan akan terus meningkat seiring pesatnya pembangunan AI Data Center di Indonesia. Menurutnya, peningkatan kapasitas pendidikan dan pengembangan talenta menjadi faktor penting agar Indonesia tidak hanya menjadi tujuan investasi, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri tersebut.
(ain)































