Logo Bloomberg Technoz

Berbeda dengan sebelumnya, AI kini menjadi bagian penting dari operasional berbagai platform digital untuk mengolah data dan menyesuaikan konten bagi setiap pengguna. Karena itu, kebutuhan pembangunan data center tidak lagi hanya didorong oleh peningkatan konsumsi data, tetapi juga oleh kebutuhan komputasi AI yang jauh lebih besar.

Erick menjelaskan Indonesia turut menikmati peningkatan investasi tersebut seiring perpindahan proyek dari negara tetangga. Setelah Singapura menghentikan pembangunan data center baru, sebagian investasi sempat mengalir ke Malaysia. 

Namun, dalam beberapa tahun terakhir Indonesia mulai menjadi tujuan baru di tengah meningkatnya kebutuhan kapasitas pusat data di kawasan. Perkembangan AI tersebut juga mengubah standar pembangunan data center secara signifikan.

Executive Vice President ASEAN Region Rittal International Ajay Bhargava mengatakan pusat data konvensional umumnya hanya membutuhkan kapasitas pendinginan sekitar 10 kilowatt (kW) per rack. Namun, AI mengubah kebutuhan tersebut secara drastis.

"Data center pada umumnya masih menggunakan sistem pendingin untuk low-density computing, dengan kebutuhan pendinginan sekitar 10 kW, atau maksimal sekitar 20–35 kW per rack. Namun, AI Data Center memiliki kebutuhan yang jauh lebih besar, bahkan bisa mencapai 100 hingga 200 kW per rack." kata Ajay.

Lonjakan kebutuhan pendinginan itu, lanjut dia, terjadi karena server AI menggunakan Graphic Processing Unit (GPU) yang menghasilkan panas jauh lebih besar dibandingkan server konvensional berbasis Central Processing Unit (CPU).

Perubahan tersebut mendorong Rittal mengembangkan Cooling Distribution Unit (CDU), sistem pendingin yang dirancang khusus untuk mendukung operasional AI Data Center. Ajay menyebut transformasi tersebut sebagai perubahan terbesar yang pernah terjadi dalam industri data center.

"Perkembangan yang kita lihat saat ini kemungkinan menjadi revolusi terbesar dalam sejarah data center, yang didorong oleh AI.," ujarnya.

Meski demikian, besarnya peluang pengembangan AI Data Center di Indonesia tetap bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari kepastian regulasi, investasi, hingga kebijakan pemerintah terkait kedaulatan data dan pengembangan infrastruktur digital.

Ajay menilai Indonesia memiliki prospek besar karena didukung pasar domestik yang luas serta ketersediaan sumber daya penting bagi operasional data center, terutama listrik dan air.

"Kalau Anda bertanya seberapa besar peluangnya, menurut saya ini akan menjadi peluang bernilai jutaan dolar, bukan hanya bagi kami, tetapi bagi seluruh industri," kata Ajay.

(ain)

No more pages