Trump berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Sabtu mengenai Ukraina dan pertemuan puncak yang akan datang, kata penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov.
Ukraina semakin sering menyerang lokasi-lokasi di dalam wilayah Rusia dengan drone dan rudal jarak jauh, menunjukkan kekuatan melawan lawannya jauh lebih besar. Meski begitu, seorang pejabat AS mengatakan kepada wartawan pada hari Minggu bahwa pemerintah AS masih memandang konflik tersebut sebagai situasi di mana tidak ada pihak yang membuat kemajuan berarti.
Trump segera berbicara dengan Zelenskyy mengenai upaya mengakhiri perang, kata pejabat tersebut—yang berbicara dengan syarat anonim—kepada wartawan dalam sebuah konferensi telepon.
Hubungan antara Washington dan Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (NATO) — yang tampak dingin di bawah kepemimpinan Trump — semakin memburuk sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Konflik tersebut memicu krisis energi global, dengan penutupan Selat Hormuz yang menghentikan pengiriman minyak dan gas. Sekutu-sekutu AS, yang tidak diajak berkonsultasi sebelum serangan dilancarkan, harus menghadapi dampak negatifnya.
Trump melontarkan kritik tajam kepada beberapa anggota NATO yang menolak mengizinkan AS menggunakan pangkalan militer untuk melancarkan serangan awal serta gagal membantu AS membuka kembali selat tersebut. Trump ikut menegur mitra-mitra tersebut karena tidak menaikkan belanja pertahanan mereka menjadi 5% dari PDB dan berulang kali mempertanyakan apakah AS mendapatkan cukup manfaat dari sekutunya.
“Presiden Trump mengharapkan semua sekutu untuk segera mengambil langkah dan tidak hanya berada di jalur yang berkelanjutan menuju angka 5 persen, tetapi juga mencapai 5 persen sesegera mungkin,” kata Duta Besar AS untuk NATO Matt Whitaker kepada wartawan dalam konferensi telepon tersebut, sambil menyebut peningkatan belanja pertahanan Eropa sebagai “sangat krusial.”
AS telah membuat para sekutunya cemas dalam beberapa bulan terakhir dengan serangkaian pengumuman yang berubah-ubah mengenai penarikan pasukan dan sumber daya dari Eropa. AS telah menyatakan akan menarik 5.000 pasukan dari benua tersebut dan memangkas aset militer yang akan disediakan Washington jika terjadi krisis.
Trup kemudian membuat marah negara-negara Eropa dengan niatnya untuk mengambil Greenland, yang merupakan bagian dari Denmark, sekutu NATO. Pejabat AS mengatakan Trump masih ingin mendapatkan wilayah tersebut, tetapi sedang menjajaki opsi lain di tengah penolakan Eropa terhadap rencana tersebut.
Akhir bulan lalu, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte berusaha meredakan ketegangan selama kunjungannya ke Washington. Rutte gencar mempromosikan aliansi tersebut, memuji Trump karena mendesak negara-negara untuk meningkatkan belanja pertahanan mereka, dan menegaskan bahwa sekutu-sekutu Eropa tetap berdiri bersama Washington.
Trump, yang memiliki hubungan baik dengan Rutte, tampaknya tidak terlalu terpengaruh; ia bahkan pada suatu saat menegaskan kembali bahwa sekutu-sekutu tidak ada untuk AS. Rutte, yang pernah memuji Trump sebagai “ayah” NATO, kini menghadapi reaksi balik di Eropa akibat apa yang oleh sebagian pihak dianggap sebagai pendekatan yang terlalu tunduk terhadap presiden AS tersebut.
Jelang KTT para pemimpin G7 bulan lalu, para pejabat senior pemerintah AS mengatakan bahwa AS merasa puas dengan sebagian pengalihan beban komitmen pertahanan ke negara-negara Eropa, dan mengharapkan lebih banyak lagi.
Kekhawatiran akan ekspansi perang Rusia melampaui Ukraina ke bagian lain Eropa telah meningkatkan ketegangan di seluruh benua tersebut.
Putin mengatakan bahwa ia bersedia melanjutkan pembicaraan dengan utusan AS mengenai penghentian perang, namun menolak usulan untuk menghentikan serangan jarak jauh yang telah menimbulkan kerugian bagi kedua belah pihak. Kremlin telah mengajukan tuntutan yang sangat keras terkait wilayah Ukraina, termasuk wilayah yang belum berhasil direbut Rusia dengan paksa dalam perang yang kini telah memasuki tahun kelima.
(bbn)






























