Logo Bloomberg Technoz

Pada 2021, Tokopedia akhirnya bersatu dengan Gojek menjadi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. Isu bergabungnya dua perusahaan ini sebenarnya rampai diperbincangkan di pasar sejak lama. Namun, perwakilan Tokopedia dan Gojek kukuh untuk menutup mulut sampai hal tersebut resmi terealisasi pada 2021. Mergernya dua entitas startup unicorn itu  pada akhirnya mengantarkan mereka menjadi perusahaan publik yang tercatat pada Bursa Efek Indonesia setahun kemudian dengan kode saham GOTO.

Dari keseluruhan proses penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO), GoTo mengumpulkan total dana sebesar US$1,1 miliar atau setara dengan Rp15,8 triliun. Hal ini terdiri dari penghimpunan dana sebesar Rp13,7 triliun dari penawaran umum saham melalui IPO serta menghimpun dana sebesar Rp2,1 triliun melalui penjualan saham treasuri dalam rangka opsi penjatahan lebih (greenshoe).

Penghimpunan dana tersebut mencerminkan kapitalisasi pasar sebesar Rp400,3 triliun atau US$28 miliar. Berdasarkan jumlah dana yang dihimpun, IPO GoTo merupakan terbesar ketiga di Asia dan kelima di dunia untuk 2022.

Namun, pada 2023, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk justru mengumumkan kemitraan dengan Tiktok. Sebagai bagian dari kemitraan, bisnis Tokopedia dan TikTok Shop Indonesia akan dikombinasikan di bawah PT Tokopedia.

Dalam hal ini, TikTok akan memiliki pengendalian atas PT Tokopedia. Namun, fitur layanan belanja dalam aplikasi TikTok di Indonesia akan dioperasikan dan dikelola oleh PT Tokopedia. Akhirnya, Tokopedia resmi menjadi bagian dari ByteDance pada 2024.

GoTo Group melaporkan kerugian kuartalan yang lebih kecil pasca menjual anak usaha PT Tokopedia, bisnis e-commerce-nya kepada TikTok. Pasalnya PT Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) tidak lagi menanggung biaya atasnya.

GoTo yang bersaing dengan Grab Holdings Ltd dari Singapura dalam layanan ride-hailing dan pengiriman makanan ini melaporkan kerugian sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi sebesar Rp102 miliar rupiah pada awal kuartal 2024.

Kerugian jauh berkurang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, Rp898 miliar, pasca penyesuaian angka proforma pasca kesepakatan atas unit e-commerce dengan TikTok.

Cerita Karyawan

Salah satu eks karyawan Tokopedia, Devara Akmal, menceritakan pengalamannya saat bekerja dengan dua kali restrukturisasi. Dia mengaku Tokopedia memiliki kultur kerja yang cepat dengan tim yang solid. Namun, restrukturisasi hingga dua kali bukan pengalaman yang menyenangkan baginya, yakni ketika merger menjadi GoTo dan diakuisisi oleh ByteDance.

"Masa transisi kayak gini penuh ketidakjelasan. Proyeknya bakal ngapain, pemimpinnya siapa, peran kita gimana dan lain-lain," ujar Devara melalui akun media sosial Thread miliknya.

Berdasarkan hal yang dirasakan dirinya, salah satu pengalaman paling tidak menyenangkan ketika Tokopedia resmi menjadi bagian dari ByteDance. Saat itu, karyawan Tokopedia dituntut menyesuaikan ritme kerja dengan ByteDance, yang jauh lebih cepat. Dia bercerita pernah mendapatkan telepon pada tengah malam untuk rapat sebuah proyek.

"Kalau mereka sih wajar semangat, gaji ByteDance plus lembur, sukarela kerja. Sedangkan gue? masih gaji Tokopedia," ujarnya.

Pada masa ini, kata Devara, kondisi tim secara keseluruhan juga dipenuhi ketidakjelasan. Beberapa orang masih mendapatkan proyek, sementara sisanya tidak mengerjakan apapun. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengundurkan diri pada 2025.

Bloomberg Technoz sudah berupaya mengonfirmasi mengenai pengalaman eks karyawan Tokopedia tersebut kepada juru bicara TikTok. Namun belum mendapakan jawaban hingga berita ini diterbitkan.

(dov/ell)

No more pages