Logo Bloomberg Technoz

"Tidak hanya dipengaruhi oleh gejolak ekonomi global, tetapi juga penyesuaian PPN pada barang mewah dan percepatan restitusi pajak guna menjaga likuiditas dunia usaha, serta pengalihan pengelolaan dividen ke BP Danantara," jelas Purbaya.

Meskipun demikian, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) berhasil melampaui target dengan realisasi Rp541,53 triliun atau 105,43% dari target sebesar Rp513,63 triliun. 

Lesunya penerimaan berdampak ke pengeluaran yakni realisasi belanja negara tercatat sebesar Rp3.435,46 triliun atau 94,87% dari pagu APBN sebesar Rp3.621,31 triliun. Realisasi tersebut mencakup belanja pemerintah pusat sebesar Rp2.586,42 triliun dan transfer ke daerah sebesar Rp849,04 triliun.

Defisit Membengkak 

Melesetnya target penerimaan juga berdampak langsung pada keseimbangan fiskal seperti defisit APBN 2025 yang melebar menjadi Rp670,34 triliun atau 2,81% terhadap produk domestik bruto (PDB), melampaui target awal yang dipatok 2,53% terhadap PDB atau Rp616,19 triliun. 

Defisit keseimbangan primer juga melonjak tajam ke angka negatif Rp155,94 triliun atau menyentuh 246,23% dari patokan awal. Untuk menambal celah tersebut, realisasi pembiayaan neto mencapai Rp742,73 triliun, setara 120,54% dari target pembiayaan dalam APBN 2025. 

Purbaya menyebut strategi pembiayaan ini dilakukan secara hati-hati (prudent) dan terkendali dengan memanfaatkan momentum membaiknya kondisi pasar keuangan.

Di sisi lain, Purbaya juga memaparkan posisi neraca keuangan yang solid hingga tutup buku 2025. Total aset yang dimiliki negara mencapai Rp14.600,89 triliun, kewajiban sebesar Rp11.527,29 triliun, dan ekuitas sebesar Rp3.073,69 triliun.

“Angka ini mencerminkan kekayaan bersih negara sekaligus kapasitas fiskal yang dimiliki untuk mendukung agenda pembangunan secara berkelanjutan,” ujar dia.

Purbaya menerangkan posisi arus kas bersih dari aktivitas operasi tercatat minus Rp243,9 triliun. Demikian pula dengan aktivitas investasi dan aktivitas transitoris yang masing-masing minus sebesar Rp712,07 triliun dan Rp 44,16 triliun. Sementara itu, aktivitas pendanaan tercatat positif Rp 828,37 triliun.

“Arus kas dan aktivitas investasi yang minus mencerminkan kuatnya komitmen pemerintah untuk terus melakukan investasi produktif guna mendorong akselerasi pembangunan nasional,” jelas dia.

(lav)

No more pages