Potensi gangguan dan dampak ekonominya cukup besar. USMCA telah meningkatkan aktivitas ekonomi di antara ketiga negara yang secara gabungan mewakili hampir sepertiga produk domestik bruto (PDB) dunia. Nilai perdagangan di kawasan Amerika Utara melampaui US$1,6 triliun pada 2024, naik dari US$1 triliun saat perjanjian tersebut mulai berlaku pada 2020.
Pada Rabu, yang bertepatan dengan enam tahun berlakunya USMCA, ketiga negara sebenarnya memiliki kesempatan untuk memperpanjang perjanjian selama 16 tahun lagi. Namun, skenario tersebut memang dinilai kecil kemungkinannya karena Trump telah memberi sinyal ingin mengubah isi kesepakatan, atau bahkan memilih berjalan sendiri. Langkah itu merupakan bagian dari strategi pemerintahannya untuk memulangkan lapangan kerja manufaktur ke AS sekaligus menekan mitra dagang agar memberikan lebih banyak konsesi.
USMCA selama ini memberikan stabilitas di tengah gejolak perdagangan global, termasuk saat Trump memberlakukan tarif terhadap China dan sejumlah mitra dagang utama lainnya. Ketika pemerintah AS mengenakan tarif baru, produk yang memenuhi ketentuan USMCA tetap memperoleh pengecualian sehingga dampaknya terhadap Meksiko dan Kanada menjadi lebih ringan.
Keputusan untuk tidak memperpanjang perjanjian dan menggantinya dengan negosiasi berkelanjutan berarti Trump dapat memanfaatkan "ancaman implisit berupa hampir dua kali lipat tarif terhadap Meksiko dan Kanada," tulis ekonom Bloomberg Economics Nicole Gorton-Caratelli dan Maeva Cousin. Pemanfaatan fasilitas USMCA meningkat tahun lalu ketika tarif baru mendorong perusahaan lebih aktif mengurus dokumen kepatuhan, dan kini sekitar 90% impor dari Kanada dan Meksiko telah tercatat memenuhi ketentuan USMCA.
Meski demikian, tarif AS terhadap produk seperti mobil dan logam masih menjadi sumber perselisihan dan diperkirakan akan membayangi negosiasi berikutnya.
Menjelang 1 Juli, Trump meningkatkan tekanan dengan menyatakan bahwa AS akan lebih baik tanpa perjanjian tersebut. Namun, langkah itu diperkirakan tidak mudah karena USMCA masih mendapat dukungan bipartisan di Kongres, meskipun sebagian anggota parlemen dan serikat pekerja menginginkan adanya perbaikan.
Dalam skema peninjauan tahunan, ketiga negara memiliki waktu hingga 10 tahun untuk mencapai kesepakatan baru. Jika tidak tercapai kesepakatan dalam periode tersebut, USMCA akan berakhir pada 2036.
"Kami akan menjalani negosiasi yang terus berlangsung tanpa mengetahui kapan tepatnya akan selesai, dan tidak ada batas waktu jangka pendek maupun menengah yang memaksa negosiasi itu berakhir," kata Patrick Childress, salah satu pemimpin tim USMCA di firma hukum Holland & Knight. "Tentu saja hal itu menciptakan ketidakpastian bagi perusahaan."
Washington dalam beberapa bulan terakhir telah melakukan pembicaraan resmi dengan Meksiko, tetapi sebagian besar menghindari meja perundingan dengan Kanada. Trump juga beberapa kali berselisih dengan Perdana Menteri Kanada Mark Carney, yang berupaya mengurangi ketergantungan perdagangan negaranya terhadap AS.
Negosiasi juga menjadi semakin rumit akibat sikap perdagangan China yang semakin agresif. Seiring produsen mobil China memperluas pangsa pasar di luar AS, isu penting dalam USMCA kini mencakup persyaratan kandungan minimum komponen otomotif asal Amerika Utara serta dorongan Washington untuk memperketat aturan asal barang bagi kendaraan, menyusul kekhawatiran mengenai masuknya komponen asal China melalui negara ketiga.
Sinyal yang Beragam
Isu lain yang berpotensi memicu ketegangan adalah sejauh mana Kanada dan Meksiko menerima investasi asal China, serta kesediaan kedua negara mengikuti kekhawatiran AS terkait keamanan nasional.
"Kanada menarik karena suatu hari mereka mengatakan, 'Kami ingin membantu Amerika melakukan reindustrialisasi. Kami ingin membantu membuat Amerika kembali berjaya,'" kata Greer kepada Bloomberg News. "Namun keesokan harinya mereka berbicara soal membuka peluang investasi China. Jadi kami menerima sinyal yang beragam dari Kanada."
Di tengah situasi geopolitik saat ini dan gaya negosiasi Trump yang mengutamakan tekanan maksimal, proses perundingan yang berkepanjangan dapat membuat perusahaan menunda rencana investasi. Kelompok pelobi seperti US Chamber of Commerce dan Business Roundtable telah mendesak pemerintah ketiga negara untuk mempertahankan sekaligus memperkuat USMCA.
"Rantai pasok dibangun dengan perencanaan hingga 30 tahun, bukan lima tahun. Ketidakpastian dapat menghambat investasi dan pertumbuhan," tulis Madeline Chalecki, Asisten Direktur GeoEconomics Center di Atlantic Council, dalam unggahan daring pekan ini.
Setelah pengumuman tersebut, asosiasi industri otomotif AS yang mewakili perusahaan seperti General Motors Co dan Toyota Motor Corp, bersama asosiasi pemasok suku cadang dan dealer kendaraan, mendesak para pemimpin ketiga negara untuk memperpanjang perjanjian trilateral itu. Mereka menilai USMCA telah mendukung investasi miliaran dolar dalam produksi kendaraan di AS serta menciptakan ribuan lapangan kerja di sektor manufaktur.
"Kami mendesak para pemimpin AS, Kanada, dan Meksiko untuk segera mencapai kesepakatan mengenai perpanjangan USMCA yang tetap mempertahankan kemitraan trilateral yang ada" sekaligus mengembalikan perlakuan tarif preferensial bagi produk yang memenuhi syarat, kata sejumlah organisasi, termasuk Alliance for Automotive Innovation dan National Automobile Dealers Association, dalam pernyataan bersama.
Langkah Selanjutnya
Menteri Kanada yang bertanggung jawab atas hubungan dagang dengan AS, Dominic LeBlanc, menyatakan dukungannya terhadap perpanjangan USMCA dalam pertemuan pada Rabu. Ia juga mengatakan menantikan pembahasan lanjutan bersama AS dan Meksiko.
"Kami sepakat mengenai pentingnya melanjutkan pembahasan dan mencari cara agar kerangka perdagangan dan investasi antara Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko terus mendukung kemakmuran serta daya saing Amerika Utara," kata LeBlanc dalam sebuah pernyataan. "Bagi Kanada, hal ini mencakup pembahasan substantif dengan Amerika Serikat mengenai tarif sektoral terhadap baja, aluminium, otomotif, dan kayu asal Kanada."
Menurut seorang pejabat senior pemerintahan AS yang berbicara kepada wartawan setelah pengumuman resmi, negosiator AS dan Meksiko akan membahas aturan asal barang untuk produk industri di luar sektor otomotif dalam pertemuan ketiga yang dijadwalkan pada pekan 20 Juli. Pembahasan juga dapat mencakup sektor kedirgantaraan, hak kekayaan intelektual, dan kualitas air.
Menteri Ekonomi Meksiko Marcelo Ebrard mengecilkan kekhawatiran mengenai mekanisme peninjauan tahunan tersebut. Menurutnya, Meksiko tidak melihat adanya "perbedaan yang tidak dapat didamaikan" di antara ketiga mitra Amerika Utara, dan menilai sikap Washington tidak seharusnya dipandang sebagai langkah awal untuk keluar dari perjanjian.
"Setiap negara sebenarnya dapat keluar dari perjanjian dengan pemberitahuan enam bulan sebelumnya. Jika AS benar-benar ingin keluar, mereka pasti sudah melakukannya sekarang," ujarnya.
Menurut Ebrard, dampak ekonomi dari keputusan tersebut akan sangat bergantung pada bagaimana proses peninjauan tahunan dijalankan. Ia menambahkan bahwa tujuan Meksiko adalah agar setiap putaran negosiasi berikutnya menghasilkan semakin sedikit perselisihan.
Serikat Pekerja dan Pelaku Ritel
Pada Juni lalu, US Chamber of Commerce membawa lebih dari 70 mitra bisnis ke Capitol Hill untuk mendesak anggota Kongres agar "mendukung keberlanjutan kerangka USMCA, mendorong kepatuhan penuh dari ketiga pemerintah, serta memastikan proses peninjauan berlangsung cepat, tertib, dan memberikan kepastian bagi dunia usaha."
Retail Industry Leaders Association (RILA), yang anggotanya mencakup Home Depot Inc dan Target Corp, juga meminta ketiga negara mempertahankan manfaat bebas bea bagi produk yang memenuhi ketentuan perjanjian serta meminimalkan ketidakpastian selama masa peninjauan.
"USMCA memberikan kepastian yang dibutuhkan para pelaku ritel untuk merencanakan rantai pasok, berinvestasi di Amerika Utara, dan menjaga kelancaran distribusi barang kepada konsumen," kata Direktur Urusan Pemerintahan RILA Ellen Jackson dalam sebuah pernyataan.
Sementara itu, International Association of Machinists and Aerospace Workers mendesak ketiga negara memanfaatkan masa peninjauan untuk memperketat standar ketenagakerjaan, memperkuat penegakan aturan, serta memperbaiki ketentuan asal barang. Menurut serikat pekerja tersebut, perjanjian perlu lebih efektif "mencegah perusahaan memindahkan lapangan kerja dari Amerika Serikat dan Kanada demi memperoleh tenaga kerja yang lebih murah," demikian isi pernyataan mereka pada Rabu.
(bbn)





























