Logo Bloomberg Technoz

“Jadi itu karena harga yang fluktuatif saja, minyak, BBM, dan tadi harga pangan. Itu harusnya akan hilang dalam waktu beberapa bulan ke depan, karena intinya masih stabil. Jadi kenaikannya bukan karena permintaan yang terlalu cepat,” jelas Purbaya.

Sebelumnya, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono juga menjelaskan inflasi bulanan (month-to-month/mtm) mencapai 0,44% pada Juni 2026. Angka ini lebih tinggi dari inflasi Mei 2026 yang sebesar 0,28%.

“Berdasarkan hasil pemantauan harga yang dilakukan oleh BPS, inflasi untuk mtm pada kondisi Juni 2026 ini terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga beberapa komoditas. Ini komoditas yang memberikan andil terbesar terutama bensin,” kata Ateng dalam konferensi pers di kantornya, Rabu (1/7/2026). 

Ateng memerinci inflasi bensin mencapai 4,53% dengan andil sebesar 0,21%. Kemudian beras mengalami inflasi 0,45% dengan andil 0,02%. Angkutan udara dengan inflasi 6,11% dengan andil 0,05%. 

Selanjutnya bawang merah dengan inflasi 6,52% dengan andil 0,04%, dan bawang putih mengalami inflasi 6,88% dengan andil 0,03%.

Selain itu, Ateng memerinci inflasi Juni 2026 secara tahunan utamanya disumbang oleh tiga kelompok pengeluaran masyarakat. Pertama, penyumbang terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil terhadap inflasi sebesar 1,36%

"Komoditas yang memberikan andil makanan dan tembakau tersebut terutama ikan segar, beras, minyak goreng, dan cabai merah," jelasnya. 

Kedua, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, yang mencatatkan andil sebesar 0,69%. BPS mencatat bahwa tekanan harga pada kelompok ini terutama didorong kenaikan harga komoditas emas perhiasan.

Ketiga, kelompok transportasi turut memberikan andil terhadap inflasi tahunan sebesar 0,55%. Inflasi pada kelompok transportasi utamanya disumbang oleh komoditas bensin, tarif angkutan udara, mobil, sepeda motor, dan juga pelumas/oli mesin. 

Sementara menurut komponennya, seluruh komponen mengalami inflasi. Pertama, komponen inti yang mengalami inflasi 2,76% (yoy), yang didorong kenaikan harga emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, dan biaya akademi/perguruan tinggi. 

Kedua, komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi 3,43% (yoy). Perkembangan itu didorong oleh kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin, dan bahan bakar rumah tangga. 

Ketiga, komponen bergejolak mengalami inflasi 5,58% (yoy). Komoditas yang mendorong inflasi pada kelompok ini yaitu beras, cabai merah, daging ayam ras, cabai rawit, dan bawang merah.

(lav)

No more pages