Logo Bloomberg Technoz

Meski begitu, sejauh ini belum ada indikasi kuat bahwa pelaksanaan kesepakatan itu akan berjalan mulus.

Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri, yang merupakan sekutu terdekat Hizbullah di jajaran pemerintahan, menyatakan pada hari Senin bahwa kesepakatan tersebut tidak akan bertahan lama, sembari memperingatkan adanya potensi pecahnya kerusuhan sipil.

Hizbullah juga menyampaikan sikap serupa.

"Kalian telah mengajukan diri secara sukarela atas nama Amerika dan Israel untuk menciptakan perpecahan ini," ujar anggota parlemen dari faksi Hizbullah, Hussein Al Hajj Hasan, yang ditujukan kepada pemerintah Lebanon. "Jangan menipu diri sendiri dengan berpikir bahwa kalian dapat memenuhi satu pun janji yang kalian buat dalam perjanjian memalukan ini."

Hanya berselang beberapa jam setelah AS mengumumkan kerangka kesepakatan tersebut pada pekan lalu, para pendukung Hizbullah langsung turun ke jalan. Mereka sempat mencoba memblokir jalan tol vital di Beirut yang mengarah ke bandara sebelum akhirnya dibubarkan oleh barisan tentara.

Menegaskan besarnya tantangan dalam implementasi pakta ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz melakukan kunjungan ke Lebanon selatan pada hari Selasa. Di lokasi tersebut, keduanya menegaskan kembali bahwa pasukan Israel tidak akan mundur dari wilayah itu sampai Hizbullah benar-benar dilucuti dan tidak lagi menjadi ancaman.

Berdasarkan pernyataan resmi dari kantornya, Netanyahu juga menginstruksikan kepada para tentara Israel bahwa mereka memiliki kebebasan penuh untuk merespons jika mendeteksi adanya ancaman.

Perjanjian ini sejatinya dirancang untuk membantu pemerintah dan tentara Lebanon dalam melemahkan pengaruh Hizbullah, sekaligus menyingkirkan peran Iran—sebuah target yang selalu gagal dicapai pada masa lalu. Pada kesempatan kali ini, AS akan mengucurkan bantuan bagi tentara Lebanon, yang sebelumnya selalu kesulitan mengimbangi kekuatan kelompok milisi tersebut karena kalah dalam hal dukungan logistik dan dana.

"Para perumus perjanjian ini secara tegas menolak gagasan bahwa Iran memiliki peran sah dalam menentukan masa depan politik atau keamanan Lebanon, meskipun konsep keterlibatan itu sebenarnya melekat dalam Nota Kesepahaman (MOU) antara AS dan Iran," tulis Robert Satloff, direktur eksekutif Washington Institute, dalam sebuah artikel, merujuk pada kesepakatan awal antara Iran dan AS yang secara tersirat mengakui pengaruh Teheran atas Lebanon.

Hizbullah menghujani Israel dengan roket sehari setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari lalu, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Israel kemudian membalasnya dengan melancarkan kampanye militer lewat jalur udara dan darat, serta menegaskan misinya untuk mengusir kelompok tersebut dari wilayah perbatasan demi mengamankan warga di wilayah utara. Setidaknya 4.250 orang tewas dalam perang tersebut dan satu juta orang lainnya terpaksa mengungsi, terutama di wilayah-wilayah yang menjadi basis kekuatan Hizbullah.

Israel sebelumnya juga pernah meluncurkan operasi militer serupa terhadap Hizbullah pada tahun 2024, setelah hampir satu tahun terlibat saling serang di perbatasan yang berjalan paralel dengan perang di Gaza. Dalam konflik yang berakhir dengan gencatan senjata pada November tahun itu, Israel berhasil menewaskan para pejabat tinggi Hizbullah dan melumpuhkan sebagian besar persenjataan mereka.

Meski penuh penolakan, tidak semua pihak menentang pakta terbaru ini. Beberapa anggota kabinet dan kelompok penentang Hizbullah, termasuk ketua fraksi parlemen terbesar, menyatakan dukungan penuh mereka di belakang pemerintah.

Kesepakatan ini "adalah langkah politik paling signifikan yang diambil oleh Lebanon dalam setengah abad terakhir, untuk menyelamatkan Lebanon dan rakyatnya" dari cengkeraman Hizbullah, ujar Samir Geagea, ketua Partai Pasukan Lebanon (Lebanese Forces).

Ia menambahkan bahwa kerangka kerja ini akan mengusir tentara Israel sekaligus membersihkan Lebanon dari pengaruh Hizbullah dan Iran.

Dukungan juga datang dari Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang menyambut baik kesepakatan ini. Uni Emirat Arab (UEA)—yang bersama Arab Saudi pernah menjadi salah satu donatur utama Lebanon—menyatakan kesiapannya untuk membantu pemulihan ekonomi dan sosial negara tersebut. Langkah ini menjadi sinyal kuat adanya dukungan dari negara-negara Teluk terhadap presiden Lebanon yang disokong oleh AS.

Di pihak internal Israel, kesepakatan ini direspons secara positif, meskipun masih diwarnai keraguan apakah Lebanon akan mampu memenuhi kewajibannya dalam perjanjian tersebut.

"Kesepakatan ini sangat, sangat menakutkan bagi Hizbullah," kata Avi Dichter, anggota kabinet keamanan Netanyahu, kepada stasiun radio Galey Israel. Namun, ia menambahkan adanya risiko pecahnya "perang saudara" di Lebanon jika pemerintah nekat mengambil tindakan keras untuk menghadapi Hizbullah, sebuah pernyataan yang menggarisbawahi betapa tegangnya situasi yang terjadi saat ini.

(bbn)

No more pages