Logo Bloomberg Technoz

Tingkat kekhawatiran itu terlihat jelas pada awal pekan ini ketika aksi jual saham-saham produsen chip mengguncang perdagangan di seluruh dunia, dipicu kekhawatiran mengenai apakah miliaran dolar yang telah diinvestasikan untuk kecerdasan buatan (AI) akan menghasilkan imbal hasil yang sepadan. Meski kekhawatiran tersebut mereda setelah hasil kinerja Micron Technology Inc. dirilis, volatilitas di sektor teknologi tetap tinggi.

"Kami tetap berpandangan positif dan meyakini investor sebaiknya tetap berinvestasi, sambil menempatkan diversifikasi sebagai inti dalam penyusunan portofolio," ujar Ulrike Hoffmann-Burchardi dari UBS Chief Investment Office. 

"Beberapa bulan terakhir menunjukkan betapa cepatnya narasi pasar dapat berubah, betapa mahalnya biaya memegang terlalu banyak uang tunai ketika pasar terus naik, serta bahwa pemilihan saham individual dapat menjadi peluang sekaligus risiko."

Roller-Coaster Ride for Stocks. (Sumber: Bloomberg)

"Beberapa retakan mulai muncul di sektor teknologi belakangan ini," kata Matt Maley dari Miller Tabak. 

"Karena itu, kami menilai akan sangat penting untuk mencermati bagaimana saham-saham hyperscaler diperdagangkan ke depan. Jika saham-saham tersebut terus melemah, akan sangat sulit bagi pasar secara keseluruhan untuk terus menguat."

Sebelumnya pada hari itu, sentimen pasar terdorong oleh data yang menunjukkan belanja konsumen AS meningkat pada Mei, meskipun harga-harga naik dengan laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat Amerika masih mampu mempertahankan konsumsi di tengah dampak perang Iran. Laporan terpisah juga menunjukkan ekonomi AS tumbuh pada laju tahunan sebesar 2,1% pada kuartal pertama, lebih cepat daripada perkiraan sebelumnya.

Meski data tersebut kemungkinan akan membuat Bank Sentral atau Federal Reserve tetap berada di bawah tekanan untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi, penurunan harga energi belakangan ini dapat membantu meredakan tekanan inflasi dalam beberapa bulan mendatang. Ekspektasi tersebut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) jangka pendek turun.

"Fase terburuk inflasi dan kecemasan konsumen kemungkinan besar sudah berlalu," kata Brian Jacobsen dari Annex Wealth Management. 

"Selama harga bensin terus menurun, ekspektasi inflasi kemungkinan juga akan mengikuti."

Meski demikian, setelah turun selama empat hari berturut-turut, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI)kembali naik. Sebuah kapal terkena proyektil yang belum diketahui asalnya di Selat Hormuz, hanya beberapa jam setelah sejumlah kapal kargo berbalik arah saat berupaya melintasi jalur pelayaran strategis tersebut. Perkembangan ini berpotensi mengganggu proses normalisasi yang sebelumnya berlangsung cepat di jalur utama pengiriman energi dunia.

Berikut beberapa pergerakan utama di pasar keuangan:

Saham

  • S&P 500 nyaris tidak berubah hingga pukul 16.00 waktu New York.
  • Nasdaq 100 naik 0,8%.
  • Dow Jones Industrial Average naik 0,1%.
  • MSCI World Index naik 0,2%.

Mata Uang

  • Bloomberg Dollar Spot Index turun 0,2%.
  • Euro menguat 0,1% menjadi US$1,1374.
  • Pound sterling menguat 0,3% menjadi US$1,3201.
  • Yen Jepang tidak berubah di level 161,78 per dolar AS.

Mata Uang Kripto

  • Bitcoin turun 2,4% menjadi US$59.445,24.
  • Ether turun 3,1% menjadi US$1.562,12.

Obligasi

  • Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun nyaris tidak berubah di 4,39%.
  • Imbal hasil obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun nyaris tidak berubah di 2,86%.
  • Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun naik dua basis poin menjadi 4,70%.
  • Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun turun dua basis poin menjadi 4,13%.

Komoditas

  • Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,6% menjadi US$72,15 per barel.
  • Emas spot naik 0,8% menjadi US$4.029,56 per ounce.

(bbn)

No more pages