Kapal tersebut melaju dengan kecepatan 7,5 knot dan tiba di mulut Selat Hormuz sekitar pukul 13.00 waktu setempat atau pukul 16.00 WIB.
Empat jam kemudian, kapal dinyatakan berhasil melintasi selat dan mencapai titik aman.
Vega menambahkan, selama pelayaran kapal dimonitor selama 24 jam penuh. Awak kapal di laut terus berkoordinasi dengan tim di darat yang bersiaga di crisis center PIS untuk memastikan keamanan pelayaran.
Menurut Vega, perusahaan juga terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan serta otoritas terkait lainnya untuk memantau perkembangan situasi secara real time dan memastikan seluruh langkah operasional dilakukan secara hati-hati.
Di sisi lain, Vega mengatakan kapal tanker Pertamina Pride saat ini sedang dalam tahap persiapan untuk bergerak dengan tetap mengevaluasi perkembangan keamanan, kondisi lalu lintas, kepadatan, dan risiko lainnya serta mempertimbangkan rekomendasi internasional.
“Terima kasih atas dukungan dan doa seluruh pihak serta masyarakat Indonesia untuk kapal Gamsunoro. Kami juga memohon dukungan dan doa bagi kapal VLCC Pertamina Pride agar dapat segera melintasi Selat Hormuz dengan aman,” tegas Vega.
Untuk diketahui, dua kapal tanker milik Pertamina tersebut tertahan di wilayah Teluk Persia dan belum dapat melintasi Selat Hormuz sejak awal Maret 2026.
Berdasarkan data PIS, kapal Gamsunoro melayani kargo milik konsumen pihak ketiga atau third party. Sementara itu, Pertamina Pride sedang dalam misi mengangkut pasokan minyak mentah atau light crude oil untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Adapun, Organisasi Maritim Internasional (IMO) menyatakan bahwa kapal-kapal dagang kini dapat melintasi Selat Hormuz melalui jalur perairan yang dikoordinasikan oleh Iran, Oman, serta Amerika Serikat (AS).
Kebijakan ini merupakan bagian dari rencana besar untuk mengevakuasi kapal-kapal yang sempat terjebak di kawasan konflik tersebut.
Detail terperinci ini dirilis setelah IMO—selaku regulator pelayaran global—mengumumkan awal pekan ini bahwa pihaknya telah berhasil meraih jaminan keselamatan yang diperlukan untuk mengevakuasi lebih dari 11.000 pelaut yang telantar di Timur Tengah.
Operasi penyelamatan skala besar ini bakal dijalankan lewat kerja sama terpadu antara Iran, Oman, seluruh negara pesisir di kawasan Teluk, AS, serta industri maritim internasional.
Kendati demikian, proses evakuasi ini diprediksi akan memakan waktu yang cukup lama. IMO pun mengimbau dengan keras agar para nakhoda kapal untuk "tidak bergerak" terlebih dahulu dan wajib "menunggu hingga dihubungi" oleh lembaga-lembaga koordinasi terkait.
Setelah dihubungi, kapal-kapal tersebut baru akan menerima instruksi untuk bergerak menuju area tunggu guna mempersiapkan rute perjalanan mereka.
Di sisi lain, sejumlah kapal dilaporkan sudah mulai keluar dari Selat Hormuz, membawa jutaan barel minyak mentah yang berhasil melintasi jalur perairan tersebut dalam beberapa hari terakhir
(azr/wdh)





























