Dari domestik, tekanan terhadap rupiah datang dari aksi jual yang terjadi di pasar saham, setelah MSCI memutuskan menunda keputusan terkait klasifikasi pasar saham RI.
Tekanan dari penilaian MSCI dan kondisi ekonomi domestik yang memiliki kebutuhan tinggi terhadap arus modal asing, semakin meningkatkan Credit Default Swap (CDS).
CDS sovereign Indonesia tenor lima tahun kembali melonjak ke 91,31 pada hari ini, dari posisi terendah bulan ini di 86,95 pada 17 Juni.
Meningkatnya persepsi risiko investor di pasar surat utang tercermin dalam CDS. Berbeda dengan peringkat kredit terbitan lembaga pemeringkat rating yang cenderung bergerak lambat, CDS menangkap persepsi risiko secara real time.
Di sisi lain, Samuel Sekuritas juga mencatat bahwa kondisi likuiditas tercatat melemah signifikan, dengan volume transaksi SUN turun 43,29% jadi Rp23,7 triliun dibandingkan sebelumnya.
Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, menyebut tekanan jual oleh investor asing di pasar saham memicu depresiasi rupiah.
Dia memperkirakan rupiah bergerak di rentang Rp17.950-Rp18.050/US$ pada sesi perdagangan hari ini.
(dsp/aji)



























