Dalam periode itu, dana asing aktif menambah kepemilikan sekitar 1,6 poin persentase, mencerminkan minat beli di tengah tekanan pasar.
Dia menjelaskan, analisis dilakukan dengan memisahkan kepemilikan asing di empat bank besar menjadi dana aktif, yang dilacak melalui kepemilikan reksa dana dan dana pasif yang mengikuti indeks.
Hasilnya menunjukkan pergeseran komposisi dalam jangka panjang, dengan porsi dana aktif meningkat dari 9,9% pada Mei 2016 menjadi 14,3% per Mei 2026, sementara dana pasif turun dari 22,3% menjadi 13,8%.
“Pesan utama dari data ini bukan investor asing saat ini overweight terhadap Indonesia, melainkan investor aktif justru telah mengakumulasi saham Indonesia pada level valuasi yang tertekan, meskipun posisi mereka secara keseluruhan masih berada di bawah bobot benchmark,” kata dia.
Di sisi lain, posisi dana asing pasif cenderung terkoreksi lebar mengikuti penurunan bobot di MSCI. Kategori pasif ini mencakup dana sovereign wealth fund, dana pensiun dan perusahaan asuransi.
Wilbert menyebut, penurunan porsi itu sejalan dengan turunnya bobot Indonesia di indeks emerging markets, sehingga lebih mencerminkan penyesuaian portofolio berbasis indeks.
“Artinya, tekanan pasar lebih banyak berasal dari rebalancing dana pasif, sementara investor aktif masih melakukan akumulasi meski posisinya tetap di bawah acuan indeks,” ujar Wilbert.
Risiko Tercermin
Sementara itu, Mirae Asset berkeyakinan gelombang aksi jual yang terjadi sebelumnya mengindikasikan sebagian besar risiko rebalancing MSCI sudah tercermin pada level IHSG saat ini.
Arus keluar dana asing sepanjang tahun berjalan telah lewat dari Rp70 triliun atau sekitar US$4 miliar. Sementara bobot Indonesia dalam indeks emerging market MSCI turun menjadi di bawah 0,5% dari sebelumnya 1,2%, level terendah dalam satu dekade.
“Dengan keputusan MSCI kini sudah keluar dan posisi investor yang sudah sangat ringan (washed out), ambang untuk terjadi pemulihan pasar menjadi rendah,” tuturnya.
“Namun, kami belum akan menyatakan situasi sepenuhnya aman mengingat ujian berikutnya masih menanti pada November,” dikutip dari riset yang sama.
Sebelumnya, penyedia indeks global MSCI tetap mempertahankan status emerging market pasar modal Indonesia. Keputusan itu tertuang dalam MSCI 2026 Market Classification Review yang diumumkan subuh tadi, Rabu (24/6/2026).
Kendati demikian, MSCI sebetulnya menunda kajian atas pasar saham Indonesia sembari menunggu konsistensi benah-benah transparansi kepemilikan saham yang didorong otoritas bursa sejak awal tahun ini.
MSCI akan melihat implementasi reformasi bursa saham Indonesia itu sampai November tahun ini.
“Jika kemajuan yang cukup tidak terlihat pada saat tinjauan indeks MSCI November 2026, MSCI akan mempertimbangkan berbagai opsi untuk perlakuan yang tepat bagi pasar Indonesia, berpotensi termasuk konsultasi tentang reklasifikasi Indonesia dari Emerging Markets ke Frontier Markets,” dikutip dari pengumuman MSCI.
Minggu lalu, MSCI menurunkan penilaian Indonesia menjadi negatif dalam tinjauan aksesibilitas tahunannya karena transparansi yang terbatas dalam struktur kepemilikan saham, perilaku perdagangan terkoordinasi yang merusak pembentukan harga, dan kurangnya pengungkapan perusahaan.
Hal itu terjadi setelah mereka menghapus beberapa saham dengan kepemilikan yang sangat terkonsentrasi bulan lalu.
“Pengumuman MSCI ini menjadi momentum untuk terus melanjutkan, memperkuat, dan mengakselerasi agenda-agenda reformasi pasar modal yang telah kita canangkan sejak awal tahun ini," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi dalam keterangannya pada Rabu (24/6/2026).
Hasan menilai laporan MSCI tidak hanya mengonfirmasi posisi Indonesia di kelompok emerging market, tetapi juga mencatat berbagai langkah reformasi yang telah dijalankan regulator dan pelaku pasar.
Menurutnya, penggunaan data yang lebih transparan dalam proses penilaian MSCI menunjukkan sejumlah upaya pembenahan mulai mendapat perhatian dari investor global.
(cpa/naw)



























